POLYCYSTIC KIDNEY DISEASE YANG PROGRESIF PADA KUCING PERSIA

POLYCYSTIC KIDNEY DISEASE YANG PROGRESIF

PADA KUCING PERSIA

Royama Sari, Herlina, Erni Sulistiawati, Cucu Kartini Sajuthi

 Praktek Dokter Hewan Bersama (PDHB) 24 jam Drh. Cucu K. Sajuthi dkk

Jl. Sunter Permai Raya, Ruko Nirwana Sunter Asri Tahap III Blok J-1 no.2 Sunter, Jakarta Utara-Indonesia

 

ABSTRAK

 

Polycystic kidney disease merupakan penyakit ginjal bawaan yang diwariskan melalui gen autosomal dominan yang umumnya ditemukan pada kucing Persia dan persilangan Persia. Patofisiologi terjadinya kista tidak diketahui dengan jelas. Kucing bernama Riorita dengan ras Persia, jenis kelamin betina dan berumur sekitar 6 tahun, datang dengan keluhan penurunan berat badan, anoreksia, dan muntah. Palpasi daerah epigastrium dorsal teraba pembesaran ginjal, dengan bentuk permukaan tidak rata dan terasa krepitasi. Hasil pemeriksaan USG terlihat pembesaran ginjal dengan  multipel ruang kosong  atau kista yang diketahui sudah berkembang menjadi abses renal berdasarkan pemeriksaan sitologi. Hematologi dan kimia darah menunjukkan adanya leukositosis dan azotemia. Kultur eksudat pus menunjukkan mikroorganisme aerob dengan hasil biakan berupa Eschericia coli. Hasil nekropsi menunjukkan sudah terjadinya penyebaran infeksi yang menyebabkan septisemia. Tidak ada terapi yang spesifik untuk PKD, pencegahan dengan deteksi dini sebelum kucing dikawinkan dan kucing yang positif sebaiknya disterilisasi.

 

Kata Kunci : polycystic kidney disease, kucing Persia, abses renal, E. coli.

Signalemen

Kucing bernama Riorita, ras Persia, jenis kelamin betina dan berumur sekitar 6 tahun, berat badan awal berkisar 3-3.75 kg dan turun menjadi 1.75 kg.

 

Anamnesa

Anamnesa yang diperoleh dari pemilik yaitu kucing semakin kurus, anoreksia, defekasi normal, pernah muntah.

 

Gejala Klinis Patologi

Gejala klinis yang tampak pada pemeriksaan fisik awal adalah kaheksia, lethargy, selaput lendir pucat, turgor buruk, dehidrasi, palpasi daerah epigastrium dorsal menunjukkan pembesaran ginjal, dengan bentuk permukaan tidak rata dan terasa krepitasi. Selama perawatan kondisi terus menurun, suhu subnormal, refleks menelan semakin buruk, pilek purulent, nausea, dan muntah.

 

Hasil Uji Pendukung

Pemeriksaan lanjutan berupa pemeriksaan ultrasonografi (USG), fine needle aspirate (FNA), pemeriksaan hematologi, kimia darah, sitologi cairan (efusi) bilateral ginjal, kultur identifikasi bakteri dan uji resistensi terhadap antibiotik, serta pemeriksaan patologi anatomi.

 

Diagnosa

Polycystic kidney disease (PKD) yang disertai dengan abses renal akibat infeksi bakteri E. coli.

Prognosa

Prognosa yang diberikan untuk kasus kucing ini adalah infausta.

 

Terapi

Terapi yang telah diberikan berupa terapi cairan infus Ringer Lactate dan NaCl 0.9%, antibiotik ceftriaxone, vitamin neurobion, dan antimuntah cimetidine. Semua obat-obatan diberikan secara parenteral (intravena). Terapi nutrisi diberikan Hill’s Prescription Diet k/d.

 

Hasil Kajian dan Pembahasan

Polycystic kidney disease (PKD) merupakan penyakit ginjal bawaan yang diwariskan melalui gen autosomal dominan (Hosseininejad et al. 2009) dan umumnya ditemukan pada kucing Persia dan persilangan Persia (Fischer 2001). Karakteristik PKD ditandai dengan terbentuknya multipel kista pada kedua ginjal. Patofisiologi terjadinya kista tidak diketahui dengan jelas. Kista renal merupakan ruang-ruang kosong (vesikel) berisi cairan yang dilapisi oleh epitel, umumnya berasal dari nefron sehingga dapat muncul di korteks maupun medula ginjal. Ukuran kista bervariasi dari 1 mm sampai lebih dari 1 cm dan bertambah jumlah dan ukurannya seiring dengan waktu. Akhir dari pembesaran kista yang progresif akan menekan parenkim ginjal di sekitarnya dan menyebabkan fungsi ginjal terganggu dan terjadi gagal ginjal, terutama jika sebagian besar jaringan terkena (Chandler et al. 2008). Gagal ginjal dapat terjadi pada semua umur kucing yang terkena PKD meskipun biasanya baru terjadi pada kisaran umur 7 tahun (Chandler et al. 2008; Hosseininejad et al. 2009). Ginjal mengalami pembesaran sangat nyata disertai dengan bentuk yang tidak beraturan. Tidak ada terapi yang spesifik untuk PKD dan terapi lebih ditujukan untuk mengatasi gagal ginjal kronis yang terjadi (Chandler et al. 2008).

Pada kucing Riorita pemeriksaan fisik awal ditemukan gejala klinis berupa kaheksia, lethargy, selaput lendir pucat, turgor buruk, dehidrasi, palpasi daerah epigastrium menunjukkan pembesaran ginjal, dengan bentuk permukaan tidak rata dan terasa krepitasi.

Hasil pemeriksaan USG (Lampiran 1 Gambar 1) menunjukkan pembesaran ginjal bilateral dengan multipel kista yang berisi cairan anechoic. Ukuran ginjal kiri membesar dengan diameter 14 x 10 x 6 cm, sedangkan ginjal kanan berukuran 12 x 10 x 5 cm. Menurut Chandler et al. 2008, pemeriksaan USG meupakan teknik diagnosa yang sangat sensitif untuk penyakit ini. Kista akan tampak berbentuk bulat, multipel, dan anechoic.

Dari FNA diperoleh aspirasi cairan ginjal kanan sebanyak 9 ml dengan warna bening, viskositas encer dengan berat jenis (BJ) 1.010, sedangkan FNA ginjal kiri dari dua lokasi yang berbeda menunjukkan aspirasi cairan sebanyak 5 ml dengan fisik cairan serupa (bening), pada aspirasi yang kedua diperoleh cairan sebanyak 3 ml dengan BJ 1.030 yang tergolong sebagai cairan eksudat (pus).

Evaluasi laboratorium diperlukan untuk menentukan keparahan gangguan ginjal (Chandler et al. 2008). Hematologi lengkap kucing Riorita menunjukkan leukositosis ringan 20.2 x 103/µL dengan nilai eritrosit dan trombosit dalam rentang nilai normal. Leukositosis dapat menunjukkan suatu kondisi inflamasi atau infeksi. Selaput lendir yang pucat mengindikasikan terjadinya anemia, meskipun nilai eritrosit, hemoglobin, dan hematokrit berada dalam rentang nilai normal, tetapi dapat disamarkan oleh kondisi dehidrasinya yang sangat berat. Kimia darah menunjukkan peningkatan ureum 216 mg/dL dan kreatinin 2.87 mg/dL, peningkatan albumin 4.1 g/dL, hiperglikemia 217 mg/dL dan hiperbilirubinemia 0.51 mg/dL. Nilai kimia darah lainnya seperti aspartate aminotransferase (AST), alanine aminotransferase (ALT), alkaline phosphatase (ALP), dan total protein dalam rentang nilai normal.

Secara mikroskopis ulasan cairan ginjal kiri yang berupa pus menunjukkan sejumlah besar sel neutrofil baik degeneratif maupun nondegeneratif dengan sejumlah besar bakteri batang panjang berspora maupun batang pendek disertai dengan sedikit bakteri cocci, seringkali ditemukan bakteri intraseluler neutrofil. Selain neutrofil juga ditemukan limfosit dan sel darah merah minimal, tidak ditemukan sel-sel atypic neoplastic. Ulasan cairan ginjal kiri yang bening dengan viskositas aseluler hanya ditemukan minimal sekali massa halus eosinofilik.

Kultur eksudat pus menunjukkan mikroorganisme aerob dengan hasil biakan berupa Eschericia coli. Menurut Freitag (2006), Uropathogenic Escherichia coli (UPEC) adalah agen infeksius yang paling umum ditemukan pada infeksi saluran urinaria manusia, anjing, dan kucing. Rute infeksi E. coli ke ginjal bisa bersifat ascendens dari saluran urinaria bagian bawah atau dapat berasal dari saluran gastrointestinal (hematogen). Namun penyebaran E. coli secara hematogen biasanya jarang terjadi.

Dari uji resistensi terhadap antibiotik diketahui bahwa bakteri tersebut resisten terhadap amoxicillin, ampicillin, ampicillin sulbactam, erithromycin, dan gentamicin; intermediet terhadap imipenem, tetracycline, dan kanamycin; serta masih sensitif terhadap aztreonam, cefpirome, ceftazidime, ceftriaxone, cefuroxime, chloramphenicol, ciprofloxacin, levofloxacin, cotrimoxazole, doxycycline, fosfomycin, meropenem, polimyxine B, nitrofurantoin, piperancillin taxobactam, dan tigecycline. Menurut Freitag (2006), pilihan antibiotik yang dapat digunakan terhadap infeksi E. coli adalah trimethoprim-sulphadiazine, atau golongan pertama / kedua cephalosporin selama 10-14 hari. Pada kasus yang lebih berat direkomendasikan menggunakan antibiotik yang lain berupa fluoroquinolone dan gentamicin selama lebih dari 4 minggu. Pada kasus Riorita antibiotik yang diberikan adalah ceftriaxone, namun tidak menunjukkan hasil yang signifikan. Hal ini disebabkan infeksi sudah berjalan kronis dan sudah terjadi kerusakan multifungsi organ akibat sepsitisemia.

Hasil pemeriksaan patologi anatomi (Lampiran 1 Gambar 2  dan 3) pada rongga abdomen ditemukan cairan keruh kekuningan sebanyak 20 ml dengan viskositas sedang (agak kental). Seluruh serosa gastrointestinal, hati, dan limpa tertutup oleh lapisan putih kekuningan yang cukup tebal, bentuk permukaan tidak rata, dengan distribusi ketebalan acak. Ukuran hati sedikit membesar dengan tepian organ dari lobus medialis tumpul, parenkim membentuk pola reticular yang cukup nyata. Kantong empedu berisi cairan empedu dalam jumlah cukup. Saluran gastrointestinal hanya berisi cairan ingesta dalam jumlah minimal dan mukosa agak menebal dan merata. Kedua organ ginjal menunjukkan ukuran tiga kali lebih besar dengan kapsula tidak rata dan menebal. Sayatan organ menunjukkan bentuk organ yang bervakuol-vakuol berisi cairan kekuningan agak kental bercampur dengan eksudat kental kuning atau abses dalam jumlah cukup banyak. Rongga dada juga berisi cairan kuning agak kental dengan volume lebih sedikit dari rongga abdomen. Paru-paru menunjukkan abses multipel tahap sedang dengan warna merah muda dengan spot-spot kekuningan dan membesar.

Berdasarkan anamnesa, pemeriksaan klinis, dan uji pendukung, diagnosa untuk kasus kucing Riorita adalah polycystic kidney disease (PKD). Pada kasus ini, kejadian PKD disertai dengan infeksi bakteri E. coli sehingga menyebabkan terjadinya abses dan penyebaran infeksi terjadi secara sistemik ke seluruh tubuh. Proses perkembangan PKD tergolong lambat, namun merupakan proses yang tidak dapat balik (irreversible), awalnya tanpa gejala klinis namun seringkali diakhiri dengan gangguan fungsi ginjal. Kematian pada kasus ini diduga terjadi akibat gagal ginjal yang disertai septisemia.

PKD merupakan penyakit yang diwariskan melalui gen autosomal dominan, sehingga dapat lebih mudah untuk mengeliminasinya dari populasi kucing Persia dengan program screening menggunakan USG (Chandler et al. 2008). Pemeriksaan USG dapat mendeteksi keberadaan kista ginjal pada anak kucing umur 7 minggu. Namun akurasi diagnosa penyakit ini meningkat seiring pertambahan umur. Selain itu keberhasilan diagnosa penyakit ini juga dipengaruhi oleh kemampuan operator USG dan sensitivitas alat USG (Fischer 2001; Kitshoff et al. 2011). Kucing yang positif PKD tidak boleh dikembangbiakkan dan sebaiknya langsung disterilisasi (Chandler et al. 2008).

 

Kesimpulan

Polycystic kidney disease (PKD) merupakan penyakit bawaan yang sering ditemukan pada kucing Persia atau persilangan Persia. Penyakit ini dapat berakibat fatal karena menyebabkan kerusakan ginjal terutama jika disertai infeksi seperti pada laporan kasus kucing Riorita. Tidak ada terapi yang spesifik untuk PKD dan terapi lebih ditujukan untuk mengatasi gagal ginjal kronis yang terjadi. Pencegahan penyakit ini melalui deteksi dini sebelum kucing dikawinkan. Kucing yang positif PKD sebaiknya langsung disterilisasi.

 

Referensi

Chandler EA, Gaskell RM, Gaskell CJ. 2004. Feline Medicine and Therapeutics. 3rd ed. Blackwell Publishing Ltd, Oxford UK.

Fischer, JR. 2001. Feline Internal Medicine Secrets: Polycystic kidney disease. Lappin MR, editor. Hanley & Belfus, Inc. Philadelphia.

Freitag T. 2006. Uropathogenic Escherichia coli of Dogs and Cats : Pathotypic Traits and Susceptibility to Bacteriophages.[Ph.D Dissertation]. Veterinary Clinical Sciences. Massey University, New Zealand

Hosseininejad M, Vajhi A, Marjanmehr H, Hosseini F. 2008. Polycystic kidney in an adult Persian cat: clinical, diagnostic imaging, pathologic, and clinical pathologic evaluations. Comparative Clinical Pathology. 18 (1): 95-97.

Kishoff AM, McClure V, Lim CK, Kirbergen RM. 2011. Bilateral multiple cystic kidney disease and renal cortical abscess in a Boerboel. J. S. Vet. Assoc. 8 (2).

 

Lampiran 1 Gambar hasil USG ginjal bilateral dan evaluasi patologi anatomi kucing Riorita

usg-ginjal-kanan usg-ginjal-kiri

Gambar 1 Hasil USG ginjal kiri (A) dan ginjal kanan (B) kucing Riorita

peritonitis

Gambar 2 Peritonitis, PKD dan abses pulmoner

bilateral3 bilateral2 bilateral

Gambar 3  PKD bilateral


PDHB drh. Cucu Kartini S, dkk

 


HIDROMETRA PADA ANJING POMERIAN

LAPORAN KASUS
HIDROMETRA PADA ANJING POMERIAN
Diah Pawitri, Erni Sulistiawati, Endang Y Astuti, Cucu K.Sajuthi
Praktek Dokter Hewan Bersama 24 jam, DrhCucu K. S, dkk
Jl. Sunter Permai Raya, Ruko Nirwana, Sunter Asri Tahap III Blok J-1 No. 2
Sunter, Jakarta Utara

Abstrak|

Hidrometra merupakan suatu kondisi klinis yang disebabkan oleh pembesaran uterus akibat akumulasi cairan yang berlebihan dengan konsentrasi cairan yang rendah dan steril. Kondisi ini seringkali tanpa disertai tanda klinis sistemik yang signifikan, dan umumnya terjadi pada yang hewan betina dewasa atau betina tua yang tidak di steril. Kasus ini melaporkan hidrometra pada seekor anjing pomerian betina bernama Happy, umur 6 tahun, dengan keluhan perut mengeras dan besar seperti hewan bunting. Pemeriksaan fisik dilakukan dengan palpasi dan teraba adanya undulasi masa di sebelah kiri, tepatnya di bawah lambung. Uji pendukung dilakukan hematologi lengkap dan profil kimia darah, hasil kedua uji pendukung menyatakan bahwa semua nilai peubah berada dalam rentang nilai normal. Berdasarkan uji pendukung lainnya radiografi dan ultrasonografi serta evaluasi sitologi dari efusi uterus, maka diagnosa kasus ini dapat di tegakkan sebagai hidrometra dengan deferensial diagnosa mukometra, hemametra atau kista endometrium. Operasi ovariohisterektomi (OH) merupakan solusi terapi terbaik, dari hasil OH menunjukkan pula bahwa hidrometra kasus ini terjadi secara unilateral dengan cornua uteri kiri yang membesar diameter 30 cm, terdiri dari lobus-lobus seperti kista berisi cairan sereous sebanyak lebih dari 2 liter. Prognosa hidrometra adalah fausta, sebaliknya diagnosa infausta pada kasus akumulasi darah pada uterus atau hemametra oleh karena kehilangan darah yang berlebihan dan dapat menyebabkan anemia sehingga dapat mengancam nyawa hewan yang bersangkutan. Kata kunci : Hidrometra, uterus, progesterone, anjing pomerian

PENDAHULUAN

Hidrometra adalah akumulasi cairan sereous di dalam uterus, analisis sitologi menunjukkan minimnya sel (hiposelular) atau bahkan aselular, keadaan ini normal pada uterus anjing selama estrus atau pada kondisi kista hiperplasia. Hidrometra adalah bagian dari pseudopregnancy atau lokal endometrial hyperplasia (Pretzer 2008). LAPORAN KASUS Kami melaporkan kasus seekor anjing betina Pomerian bernama Happy, umur 6 tahun yang datang ke klinik PDHB drh. Cucu K, dkk pada tanggal 7 Agustus 2011. Anamnese hewan antara lain hewan gelisah, malas bergerak tetapi nafsu makan masih cukup baik, keadaan umum lainnya tidak bermasalah. Hewan pernah di kawinkan pada bulan Juni 2010, tetapi tidak terjadi kebuntingan. Keluhan lainnya perut membesar dan mengeras terlihat seperti hewan bunting, diamati sejak bulan April 2011. Pemeriksaan fisik dengan palpasi teraba undulasi massa di sebelah kiri di bawah lambung. Pemeriksaan laboratorium meliputi, hematologi dan kimia darah telah dilakukan, hasil kedua uji pendukung ini menyatakan semua nilai analisis uji diagnostik tersebut berada dalam rentang nilai normal. Radiografi melaporkan adanya pembesaran uterus, sedangkan ultrasonografi menunjukkan pembesaran terjadi pada kornua uterus kiri, terlihat multipel vakuol yang berisi cairan serupa kista. Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik, radiografi, Ultrasonografi maka diagnosa klinis ditegakkan sebagai hidrometra dengan deferensial diagnosa kista endometrium.

Hidrometra pada anjing

Gambar 1. Hasil USG. Multipel vakuol dengan ukuran bervariasi pada endometrium uteri dan berisi cairan  Gambar

Hidrometra pada anjing2

2. Laparatomi OH. Pembesaran kornua uterus kiri dengan diameter 30 cm

Pada tanggal 13 Agustus 2011 di lakukan operasi OH, hasil operasi diketahui terjadi perluasan dan pembesaran kornua uterus kiri dengan diameter 30 cm (gambar 2 dan 3), lesio berisi cairan serous lebih dari 2 liter, sementara korpus dan kornua kanan uterus terlihat tidak ada perubahan (normal). Cairan sereous uterus tersebut memiliki berat jenis cairan 1015, dan hasil sitologi melaporkan tidak di temukannya sel endometrium maupun sel tumor sehingga diagnosa morfologi adalah multipel kista endometrium. Pada ovarium kiri ditemukan juga kista ovari dan tidak terlihat adanya korpus luteum, sementara pada ovarium kanan tidak terlihat folikel, kista maupun korpus luteum (gambar 4). DISKUSI Hidrometra adalah suatu keadaan klinis akibat akumulasi cairan yang berkonsentrasi rendah (encer) dan steril pada uterus tanpa disertai tanda klinis sistemik yang signifikan. Akumulasi cairan dapat terjadi akibat sekresi cairan yang berlebihan dan terakumulasi dalam uterus olehkarena saluran keluar alaminya terhalangi oleh beberapa hal (Pretzer 2008).

Hidrometra pada anjing3

 Gambar 3. Uterus dan Vesika Urinaria A. Kornua Kiri B. Kornua Kanan C. Korpus Uteri D. Servik Uteri E. Vesika Urinaria

Hidrometra pada anjing4

Pada kasus ini diketahui bahwa Happy memiliki siklus ovulasi yang normal, pada bulan Juni 2010 terjadi estrus dan di kawinkan tetapi tidak terjadi kebuntingan. Estrus berikutnya lepas dari pengamatan pemilik dan terlihat kembali oleh pemilik pada bulan April 2011, tidak di kawinkan tetapi perut membesar hingga akhirnya pada bulan Agustus di bawa ke klinik. Menurut Pretzer (2008) hormon estrogen dan progesteron mengalami variasi perubahan tingkat kosentrasinya dalam setiap tahapan siklus estrus, mengikuti siklus ovulasi hormon plasma progesterone meningkat dan menstimulasi pertumbuhan endometrium dan kelenjar mensekresi cairan sambil menekan aktivitas myometrium. Saat estrus pada anjing betina terjadi kongesti dan edema pada endometrium dan mukosa ditutupi oleh sekresi sanguineous, sekresi ini merupakan produk dari epitelium kelenjar. Di bawah pengaruh progesterone jaringan sel dari kelenjar berproliferasi sehingga menyebabkan hiperplasia sampai level progesterone mencapai puncak. Menurut Feldman dan Richard (1996) induksi hormon progesteron ini dapat menyebabkan endometrium hiperplasia dan umumnya terjadi pada anjing betina usia 6 tahun keatas, pada kejadian patologik hiperplasia yang progresif dapat membentuk kista endometrium. Cystic endometrial hyperplasia (CEH) dapat menyebabkan hematometra, pyometra, mucometra atau hydrometra, dan banyak faktor dari penyakit uterus pada anjing betina. Penebalan endometrium pada kasus CEH, diketahui terjadi karena peningkatan ukuran, jumlah kelenjar endometrium disertai penigkatan aktivitas sekresi kelenjar. Sel epitel mukosa endometrium berliku-liku dengan sitoplasma bening dan hipertonik, serta stroma menjadi edematous. CEH dapat ditandai oleh adanya sekresi cairan transparan dan kental pada lumen uterus. Cairan ini sterile, jika uterus yang berisi cairan ini tersumbat maka dapat memiliki kecendrungan menjadi hidrometra Stimulasi progesteron yang meningkatkan sekresi kelenjar endometrium, penurunan kontraktilitas myometrium dapat menyebabkan penutupan servik. Penyumbatan servik pada fase ini dapat mengakibatkan korpus dan kornua uterus meluas dan membesar (Oh et al. 2005) Konfirmasi diagnosa CEH sulit karena diagnosa tersebut biasanya tidak berkaitan dengan tanda-tanda klinis kecuali jika isi uterus terinfeksi. Penegakkan diagnosa CEH yang tidak terinfeks memerlukan biopsi uterus (Smith 2006). Percobaan OH dengan meninggalkan sebagian dari uterus, ternyata menyebabkan uterus meluas dan membesar (menggembung) serupa kista dengan cairan bening. Hal tersebut juga merupakan bagian dari pseudopregnancy.

DAFTAR PUSTAKA

Feldman EC; Richard WN. 1996. Canine and feline Endocrinology and reproduction. WB Sounders company. Philadelphia USA Oh Ki-Seok, Chang-Ho Son, Bang-Sil Kim, Shun-Shin Hwang, You-Jung Kim, Su-Jin Park, Jae-HoJeong, CheolJeong, Sung-Hee Park, Kyoung-Oh Cho. 2005. Segmental Aplasia of Uterine Body in an Adult Mixed Breed Dog. Journal of Veterinary Diagnostic Investigation September 2005 vol. 17no. 5 490-492. Pretzer,S.D. 2008. Clinical presentation of canine pyometra and mucometra: A review. Abilene Animal Hospital, P.A., 320 NE 14th Street, Abilene, KS 67410, USA Smith,Frances O. 2006. Canine pyometra. Smith Veterinary Hospital, Inc., 1110 East Highway 13, Burnsville, MN 55337, USA
Gambar 3. Uterus dan Vesika Urinaria A. Kornua Kiri B. Kornua Kanan C. Korpus Uteri D. Servik Uteri E. Vesika Urinaria

 


Pericardiocentesis As a Treatment of Choice For Animal With Pericardial Effusion

Pericardiocentesis As a Treatment of Choice For Animal With
Pericardial Effusion

Cucu K. Sajuthi , Maulana ArRaniri Putra, Piprim B Yanuarso*, Suswanto, Bambang Sulistyo, Endang Yuli Astuti, Herlina, and Royama Sari.

Praktek Dokter Hewan Bersama (PDHB) 24 jam drh. Cucu K. Sajuthi dkk

(24 HRS Veterinary Clinic Drh Cucu K. Sajuthi and Associate)
Jl. Sunter Permai Raya, Ruko Nirmana Sunter Asri Tahap III Blok J-1 No.2

*) Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta

 

Introduction

Pericardial effusion is a condition when excess or abnormal fluid accumulation occurs in the pericardial space. This disease is the most common pericardial disorder and it occurs most often in dogs. Most pericardial effusion in dog are sanguinous or serosanguinous. The fluid usually appears dark red. Mostly red blood cells are found on cytological diagnosis but, reactive mesothelial, neoplastic, or other cells may be seen (Abbott, 2000).

The treatment of pericardial effusion is very different from other causes of right-side heart failure. Positive inotropic drugs do not ameliorate the signs of tamponade. Pericardiocentesis is the therapeutic procedure of choice and also provides diagnostic information. Administration of diuretic or vasodilatators without pericardiocentesis may cause further hypotention and cardiogenic shock (Nelson and Couto, 2003).

 

Case Study

Brownie, a male 11-years old Golden Retriever was first presented to our clinic with fatigue, panting and the dog had a sudden collapse history. The physical exam showed that respiratory rate was increased (100 beats/ minute) but the body temp was within the normal range (38.7oC). The diagnostic approach was X-ray, with the result that the heart was very big, almost fully filled the chest cavity. We suggested to the owner to bring the dog in the next day to meet our vet with special interests in cardiology, for an ECG and Ultrasound. The ECG showed shortened  complex of QRS waves. The Ultrasounding showed the presence of water in the pericardium space in a large amount. The definitve diagnosis of Brownie was pericardial effusion. The prognosis was dubius to infausta. The therapy given were Lasix® , Omega 3 plus®  and TF advance® . We planned to perform pericardiocentesis as soon as possible and the owner agreed. Two days later, the dog came to our clinic for pericardiocentesis.

 

Pericardiocentesis

Pericardiocentesis is the treatment of choice for initial stabilization of animals with cardiac tamponade. Pericardiocentesis is a relatively safe procedure when carefully performed. Removal of even small amounst of pericardial fluid can markedly decrease intrapericardial pressure in animals with tamponade (Nelson and Couto, 2003).

Brownie was sedated with intravenous administration of penthotal and the maintenance was inhalation of isoflurans. The position was Right-Lateral recumbency and the tap was performed from underneath. Pericardiocentesis from the right side minimizes the risk of trauma to the lung (because of the cardiac notch) and major coronary vessels (which are located mostly on the left) (Nelson and Couto, 2003). The skin was shaved over a wide area especially between costae three to eight, then the area was cleaned with alcohol 70% and iodine tincture 20%. We put markers in the 1/3 ventral part of intercostae three to four. The incision site was in the marked regio. The incision was about five cm dorso-ventral length. After intercostal muscles were visible, a #16 and 5″ intravenous catheter was poked through intercostal muscles to reach the pericard, with the guidance of ultrasound. After that the needle from the IV catheter was pulled out. The next step was to aspirate to make sure of the proper position of the IV catheter. Then a 0.18 short wire was inserted to the IV catheter and the IV catheter was pulled out but the short wire stayed inside. The function of the short wire was as a direction to the pericardial space. After that 4s radial sheath was inserted to the wire until it reached pericardial space. Then the wire was pulled out and the sheath left inside. After that a 150 cm guide wide terumo® was inserted to the 4s pig tail catheter, then put onto radial sheath in the chest cavity. The wire was pulled out, 4s radial sheath and pig tail catheter were fixated to the skin with thread. Pericardiosintesis was then performed. We collected 385 ml hemoserous liquid from Brownie, and we sent it to the lab for further diagnosis. After 385 ml of liquid was withdrawn by pericardiocentesis, the ECG showed that the amplitude of the complexes were now increased. On day two we collected another 95 ml hemoserous liquid. The volume of the liquid decreased everyday until day five. On day five there was no moreliquid that we could aspirate. After the absence of liquid was confirmed, we took the catheter out. To prevent infection we gave the dog cefadroxil and also omega 3® and TF advance® as a supplement.

The morphological diagnosis from cytological insection of the liquid that we had collect on pericardial space were hemorrhagic effusion with atypical cells. The atypical cells could be tumor cells or reactive mesothelial cells that correlated with hemorrhagic effusion. The differential diagnosis for this case were heart based tumor or hemangiosarcoma. Both of the diseases can cause hemorrhagic effusion. We had to take a new radiographic for the chest, and the result showed that the heart’s size was smaller than the previous radiographic.

 

Conclusions

Pericardiocentesis is the most successful method to treat pericardial effusion. Careful procedures will minimize the risks.

 

Reference

Abbott JA. 2000. Small Animal Cardiology Secrets. Hanley&Belfus. .

Nelson RW, Couto CG. 2003. Small Animal Internal Medicine 3rd ed. Mosby inc.

 

 

Pericardiocentesis2 Pericardiocentesis3

Picture 1. The dorso-ventral position of the thorax region before (A) and after (B) pericardiocentesis. (Personal documentation, 2010)

Pericardiocentesis4 Pericardiocentesis5

Picture 2. The ECG of Brownie before (left) and after (right) pericardiocentesis
(Personal documentation, 2010)

Pericardiocentesis1

Picture 3. USG of brownie’s heart before the pericardiocentesis

 


  • pdhbvet

    pdhbvet