Client Education Series

Client Education Series
by: drh. Diah Pawitri

 

We hope these notes will give you some help.  If you have questions please do not hesitate to contact us.


1. VOMITING

What  causes vomiting?

Vomiting is not a disease but a symptom of many different disease.  Many cases of vomiting are self limiting after a few days. Less commonly vomiting may result from a serious illness, such as kidney failure. Even when vomiting is caused by mild illnesses, it may lead to death of he animal if treatment is not begun early enough to prevent severe fluid and nutrient losses.

How serious is vomiting in dogs?

We attempt to determine how sick dog has become as consequence of the vomiting.  When the dog is systemically ill, some of the following may be noted:

  1. Diarrhoea
  2. Dehydration
  3. Loss of appetite
  4. Abdominal pain
  5. High fever
  6. Lethargy

What  tests are performed to find the cause?

If vomiting is associate with several of the above sign, we perform a series test to clarify the situation.  Diagnostic  test may include radiography, ultrasound, blood test, biopsies and exploratory abdominal surgery.  Once the diagnosis is know, treatment may include medications, diets, and/or surgery.

If your dog does not appear systemically ill from the vomiting, the cause may be less serious.  Some of the minor causes of vomiting include stomach or intestinal bacteria, parasites, and dietary indiscretions.  Please keep us informed of luck of expected improvement so that we may assess the situation.


2. SEIZURES

What is a seizure?

Seizures are one of the most frequently seen neurological problem in dogs. A seizure is also known as a convulsion or  fit.  It may have all or any combination of the following :

  1. Loss or derangement of conciousness
  2. Contractions of all the muscle in the body
  3. Change the mental awarensess from non responsiveness to hallucinations
  4. Involuntary urination, defecation, or salivation
  5. Behavioural changes, including non recognition of owner, viciousness, pacing, and running in circles

Is the dog in trouble during a seizure?

Despite the dramatic sign of seizure, the dog feels no pain, only bewilderment. Dogs do not swallow the tongues.  If you put your finger into its mouth you will do not benefit to your pet and will run a high risk of being bitten very badly.  The important thing is to keep the dog from failling and hurting itself.  As long as it is on the floor or ground, there is a little chance of harm occuring.  If seizures continue for longer than a few minutes, the body temperature begins to rise.

What causes seizures?

There are many of seizures.  Epilepsy is the most common and least consequence to the dog.  The other extreme includes severe disease as brain tumor , distemper, and hypoglycaemia.

 

3. TRAVEL WITH YOUR DOG

CAR TREVEL

Animals travelling in cars should be under control in vehicles and unable to distract you while you are driving.  If you want your dog to be loose in car he should be separated from you, and thus an estate vehicle or hatchback with a strong dog guard is ideal.  Alternatively a crate or cage can be used, the dimensoins of which should be comfortable for the animal.  If the dog is not so separated from you he should be tethered so that he cannot act as adistruction.  The easiest way of doing this is place him in the footwel in the back of the car, shutting the lead, attached to properly adjusted collar, in the car door.

Motion sicknesss is a condition which affects many dogs.  It is due to the effect of the motion on the organs of balance located in the inner ear.  Signs are usually excessive salivation, restlessness or excitement.  Many of the human travel sckness remedies  are effective.  Give the tablet at least half an hour before travelling is due.

 


Studi kasus : Penanganan penyakit Congestive Heart Failure (CHF) pada Anjing Rottweiler

Studi kasus : Penanganan penyakit Congestive Heart Failure (CHF) pada Anjing Rottweiler.
Agus Efendi, Endang Yuli Astuti, Sukamto Priyadi, Cucu K Sajuthi

Praktek Dokter Hewan Bersama 24 Jam drh Cucu K Sajuthi dkk.
Jl. Sunter Permai Raya, Ruko Nirwana Sunter Asri Tahap 3 Blok J 1 No 2,Sunter Jakarta Utara

 

Abstrak

            Gagal jantung adalah suatu keadaan patofisiologi dimana jantung  tidak dapat berfungsi memompakan darah dalam jumlah yang memadai untuk memenuuhi kebutuhan metabolisme jaringan, atau hanya dapat bekerja apabila tekanan pengisian (filling presure) dinaikan. Seekor anjing ras rottweiler jantan umur 17 tahun datang dengan keluhan lemah, lumpuh, kurus dan perut membesar. Beradasarkan pemeriksaan klinis yang ditunjang dengan pemeriksaan laboratorium lengkap, ultrasonografi, radiologi, dan elektrokardiografi, maka diperoleh kesimpulan bahwa Bruno mengalami congestive heart failure. Congestive Heart Failure (CHF) bukan suatu diagnosa spesifik namun merupakan sebuah sindroma yang disebabkan satu atau lebih proses penyebabnya. Terapi yang diberikan meliputi pemberian pimobendan yang dikombinasi dengan enalapril dan furosemid. Disamping itu, makanan diet khusus jantung, suplemen minyak ikan, multivitamin, abdominocentesis berkala dan akupuntur. Setelah 8 bulan diberikan terapi di atas secara rutin, perkembangan kesehatan Buno menunjukkan adanya perbaikan kualitas hidupnya.

Kata kunci: Congective heart failure, ascites, anjing rottweiler, terapi.

Signalemen, Anamnese dan Gejala Klinis

Anjing Bruno ras rottweiler jantan berumur 17 tahun dengan berat 26 kg pada bulan Januari 2012 datang  ke klinik Praktek Dokter Hewan Bersama (PDHB) Drh Cucu K Sajuthi dengan gejala kelumpuhan yang mendadak, penurunan berat badan dan perut membesar. Pemeriksaan klinis ditemukan adanya nafas abdominal, tachypnoe, kaheksia, kelemahan otot serta daerah ekstremitas tubuh yang dingin. Distensi abdomen akibat ascites terlihat cukup besar dengan isi cairan kental kemerahan sebanyak 4,5 liter. Daerah thorak terlihat adanya ictus cordis. Auskultasi jantung terdengar tachycardia serta arritmia.

Hasil Uji Pendukung

            Pemeriksaan radiologi menunjukkan adanya radioopasitas di dalam abdomen yang menggambarkan adanya cairan di dalam abdomen dan radioopasitas di paru-paru yang menggambarkan adanya edema pulmonum (Gambar 1). Pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan adanya akumulasi cairan di dalam abdomen dan dilatasi vena porta hepatica dengan sel hepatosit yang masih seragam (Gambar 2). Pemeriksaan melalui echocardiografi didapatkan gambaran penebalan musculus papillaris dan penebalan dinding ventrikel (Gambar 3). Pemeriksaan elektrocardiografi (Gambar 4) menunjukkan adanya tachycardia 212 bpm, dan bentuk gelombang P tidak sama. Haematologi tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Pemeriksaan sitologi cairan ascites memperlihatkan adanya sel-sel neutrofil yang bercampur makrofag. Profil tersebut konsisten dengan karakteristik effusi abdomen yang terjadi sebagai kondisi sekunder pada right-sided heart failure. Berdasarkan gejala dan pemeriksaan klinis serta penunjang Bruno didiagnosa mengalami CHF.

1

Gambar 1 Hasil roentgen thoraks Bruno menunjukkan adanya edema pulmonum

2 3
(a)                                                      (b)
Gambar 2 (a) USG rongga abdomen anjing Bruno menunjukkan adanya effusi cairan di dalam rongga abdomen (A) anjing Bruno. (b) USG liver Bruno menunjukkan adanya kongesti vena di dalam liver dengan hepatosit yang memiliki echositas yang seragam.

4

Gambar 3 USG jantung Bruno menunjukkan adanya penebalan ventrikel jantung

5

Gambar 4  EKG jantung Bruno menunjukkan adanya tachicardia 221 bmp dengan bentuk gelombang P yang tidak sama.

Diagnosa dan Prognosa

Berdasarkan gejala dan pemeriksaan klinis serta penunjang Bruno didiagnosa mengalami Congective Heart Failure (CHF).

Terapi

Terapi yang diberikan meliputi pemberian pimobendan, enalapril dan furosemid.  Disamping itu diberikan juga makanan diet khusus untuk penderita kelainan jantung, suplemen minyak ikan, multivitamin.  Sebagai terapi penunjang juga dilakukan abdominocentesis berkala dan akupuntur.

Pembahasan

Gagal jantung adalah suatu keadaan patofisiologi yang  terjadi saat jantung  tidak dapat berfungsi memompakan darah dalam jumlah yang memadai untuk memenuuhi kebutuhan metabolisme jaringan, atau hanya dapat bekerja apabila tekanan pengisian (filling presure) dinaikan. Terdapat tiga tahapan dalam kejadian gagal jantung yaitu gangguan pada jantung, mekanisme kompensasi dan gagal jantung yang disertai gejala klinis disfungsi jantung. Beberapa kerusakan atau disfungsi jantung mengakibatkan perubahan hemodinamika secara kronis. Perubahan hemodinamika tersebut memicu aktivasi mekanisme neurohumoral untuk meningkatkan fungsi jantung dan perfusi jaringan. Aktivasi mekanisme kompensasi tersebut yang terjadi secara kronis akan memicu disfungsi cardiovascular yang progresif yang pada akhirnya akan mengakibatkan life-threatening congestive heart failure (CHF), low-output failure atau kematian mendadak (Tilley et al. 2008 ).  Congestive heart failure (CHF) merupakan istilah untuk kongesti yang terkait dengan meningkatnya diastolic filling pressure yang menjadi syarat pembentukan kongesti dan edema (Abbott, 2000). Kongesti dan edema tersebut terjadi karena tekanan hidrostatik vena dan kapiler. Congestive Heart Failure (CHF) bukan suatu diagnosa spesifik namun merupakan sebuah sindroma yang disebabkan satu atau lebih proses penyebabnya (Nelson dan Couto, 2003).

Penurunan kemampuan pompa jantung selalu disertai dengan hambatan aliran balik vena dan peningkatan tekanan pengisian pada  salah satu atau kedua ventrikel. Respon kompensasi dalam menjaga nilai homeostasis hemodinamik memiliki keterbatasan dan akhirnya menyebabkan efek samping yang merusak, dengan manifestasi klinis yang mencirikan sindroma. Tanda-tanda klinis dari gagal jantung bervariasi  tergantung pada penyebab khusus penyakit jantung tersebut. Oleh karena itu, dikarenakan banyaknya penyebab gagal jantung yang ada, tidak ada satu rangkaian tanda klinis yang dapat menggambarkan sindroma, karena meskipun tergantung pada mekanisme kompensasi yang sama, pola keterlibatan langsung vaskular regional berbeda jauh (Abbott, 2000).

Tanda – tanda klinis dari gagal jantung merupakan manifestasi dari efek samping yang merusak akibat aktivasi yang berlebihan dan terus menerus terhadap mekanisme kompensasi. Mekanisme kompensasi tersebut hanya memberikan efek positif saat tahap awal gagal ginjal. Manifestasi tersebut dapat dikelompokkan yaitu(Abbott, 2000):

1. Sistem saraf simpatik yang berlebihan meliputitachycardia, kadang disertai dengan ektopi ventrikel, vasokontriksi yang general menyebabkan selaput lendir pucat, pompa kapiler lambat dan daerah ekstremitas menjadi dingin. Auskultasi dan EKG jantung Bruno didapatkan adanya tachycardia (221 bpm), arritmia serta ekstremitas tubuh yang dingin.

2.  Volume darah yang berlebihan : suara jantung ke tiga (gallop) menunjukkan adanya peningkatan tekanan pengisian ventrikel (ventricular filling pressure), distensi vena secara general, hepatomegali, effusi pleura, ascites, kadang-kadang terjadi edema subkutan, edema pulmonum dan tanda – tanda gangguan pernapasan (takhipnea, hiperpnea, pulmonary rales, batuk berdahak sampai berbusa). Ultrasonografi pada abdomen Bruno memperlihatkan adanya ascites dan kongesti pada vena-vena di dalam hati dengan hepatosit yang masih seragam. Hal tersebut menandakan ascites tersebut merupakan akibat kongesti vena bukan diakibatkan oleh gangguan di hati. Edema pada Bruno juga terjadi di paru-paru yang terlihat dari hasil X-Ray thoraks. Berdasarkan pemeriksaan total protein serta albumin darah yang masih dalam kisaran normal maka edema yang terjadi pada Bruno murni diakibatkan CHF bukan akibat dari hipoproteinemia.

3.  Hipertrofi miokardium yang berlebihan (akhirnya berkontribusi terhadap  overload cardiomyopathy), penurunan output jantung, artmia ventrikel, kelemahan otot rangka, atropi otot secara umum (cardiac cachexia) dan gagal ginjal.Hipertofi miokardium pada jantung Bruno teramati melalui pemeriksaan echocardografi. Hipertrofi tersebut terjadi sebagai mekanisme kompensasi yang bertujuan untuk menormalisasikan output jantung, ketegangan pada dinding jantung dan diastolic filling pressure. Aktivasi mekanisme kompensasi melalui aktivasi Renin-Angiotensin-Aldosteron System (RAAS) dan Sympathetic Nervous System (SNS) yang terjadi secara kronis akan mengakibatkan perubahan patologis pada miokardium ventrikel yang berkontribusi pada disfungsi jantung. Kelemahan otot dan cardiac cachexia juga nampak pada otot-otot tubuh Bruno.

Penanganan medis pada kasus gagal jantung ditujukan dalam mengurangi gejala dan disfungsi jantung karena mayoritas kasus, gangguan jantung dan gagal jantung tidak dapat disembuhkan. Gejala kongesti dapat diterapi dengan obat yang mengurangi cardiac filling pressure (penurun preload seperti diuretik dan venodilator) dan obat yang memudahkan kinerja jantung (ionotropik positif dan dilatator arteri) (Tilley et al. 2008).Terapi yang diberikan meliputi pemberian obat ionotropik positif dan vasodilatator (pimobendan 0,25 mg/kg BID) yang dikombinasi dengan ACE-inhibitor (enalapril 0,5 mg/kg BID) dan diuresis (Furosemid 2 mg/kg BID). Selain itu, terapi juga menggunakan makanan diet khusus jantung, suplemen minyak ikan dan multivitamin. Selain menggunakan terapi obat, terapi CHF juga dikombinasikan dengan makanan diet khusus jantung. Pada umumnya makanan diet untuk kasus jantung memiliki kandungan yang natrium yang terbatas. Selain itu makanan tersebut juga mengandung L-carnitin dan taurine sebagai suplementnya. Pasien yang mengalami anoreksi dan cardiac cachexia direkomendasikan untuk pemberian minyak ikan dengan dosis 40 mg/kg/day EPA (eicosapentaenoic acid) dan 25 mg/kg/day DHA (docosahexaenoic acid) (Tilley et al. 2008). Akupuntur dan abdominocentesis juga dilakukan secara berkala. Perkembangan kesehatan Buno dengan mengkonsumsi obat dan makanan khusus selama 8 bulan rutin menunjukkan kemajuan yang cukup signifikan dengan terlihatnya mampu berdiri dan berjalan meskipun masih terlihat kaheksia dan ascites (Gambar 4).

6 7
(a)                                         (b)
Gambar 4 Aspirasi cairan effusi abdomen (a) secara berkala, pemberian obat dan suplemen, serta akupuntur dapat membantu memperbaiki kualitas hidup Bruno (b)

Kesimpulan

            Penyakit gagal jantung tidak dapat disembuhkan dan menyebabkan komplikasi berupa edema pulmonum dan ascites, hipertropi jantung, kelemahan dan atropi otot-otot tubuh. Melalui terapi dan pengaturan jenis pakan diet yang baik dapat memperbaiki kualitas dan kuantitas hidupnya.

Daftar Pustaka

Abbott J. 2000. Small Animal Cardiology Secrets. Philadelphia : Hanley & Belfus Inc. Missouri: Saunders-Elsevier.

Nelson RW dan Couto CG. 2003. Small Animal Internal Medicine.

Tilley LP, Smith FWK, Oyawa MA, dan Sleeper MM. 2008. Manual of Canine and Feline Cardiology Fourth Edition. Missouri: Saunders-Elsevier.


Perawatan Setelah Beranak Untuk Anjing dan Kucing

Perawatan Setelah Beranak (Post Partus) Untuk Anjing dan Kucing

 Oleh: drh. Nova Anggraini

Lingkungan anak anjing dan kucing yang baru lahir harus dalam suasana yang bersih dan hangat. Anakan ditempatkan di tempat yang bersih, aman dan tenang dengan alas yang baik (handuk atau kain bersih, guntingan kertas koran, dsb) dalam suatu keranjang. Suasana tempat anakan harus yang hangat terutama pada malam hari. Lampu bohlam 20 watt bisa diletakkan dengan jarak 40 cm dari anakan serta dalam suasana ruangan non AC.  Karena anakan yang kedinginan akan menyebabkan perut kembung dan sering sekali berakhir dengan kematian.

kucing1

Gambar 1. Alas dan Suasana Tempat Anakan
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Pada indukan yang bersifat manja maka sebaiknya anakan dipisah dahulu dari induknya sampai induknya sayang. Induk yang sayang dengan anaknya terlihat dari perilaku mau menjilati anaknya daan menangisa jika dipisahkan dari anaknya. Hal-hal yang bisa terjadi apabila induk belum sayang anaknya antara lain anakan bisa termakan, tergigit ataupun terinjak oleh induknya sendiri. Induk-induk tersebut diajarkan menyayangi anak-anaknya dengan cara mendekati anakan ke induk untuk mecium-cium bau anaknya. Pada indukan anjing maupun kucing yang beranak melalui bedah Caesar biasanya belum atau tidak merasa sayang.

Induk anjing dan kucing yang beranak banyak harus disediakan susu pengganti untuk anak-anaknya. Pengaturan pemberian susu diatur bergantian antara  susu formula maupun ASI. Baiknya anakan diberi susu induk selama 24 jam pertama setelah lahir karena mengandung antibodi yang banyak yang sering disebut susu kolostrum. Susu kolostrum penting untuk imunitas anakan.  Untuk pemberian susu pengganti diberikan selang waktu antara 3-4 jam. Sebelum anakan menyusu ke induk, baiknya putting susu dilap dengan waslap hangat untuk membersihkan kotoran-kotoran yang menempel pada putting susu. Apabila ASI terlihat kuning-lengket atau kehijauan atau bernanah jangan diberikan kepada anak anjing karna kelenjar susu sedang meradang atau yang sering disebut dengan mastitis. ASI tersebut mengandung banyak bakteri yang bersifat jahat sehingga dapat menyebabkan anak anjing maupun kucing mengalami diare.

Makanan padat (bubur susu) diberikan setelah anak berumur 1 bulan. Selain itu, induk harus diberi makanan tambahan terutama jika anaknya banyak. Kekurangan energy dan makanan dapat menyebabkan induk kekurangan kalsium atau yang sering disebut hipokalsemia atau milk fever. Hipokalsemia akan menunjukkan gejala induk akan kejang-kejang, suhu badan tinggi dan kekakuan pada otot-otot tubuhnya. Baiknya induk anjing atau kucing tersebut langsung dibawa ke dokter hewan untuk diberikan penanganan secepatnya. Kejadian tersebut dapat dihindari dengan pemberian supplement kalsium tambahan ataupun susu.

Tali pusar  kering dan lepas Hari ke 2-3
Mata terbuka Hari ke 5-14
Telinga terbuka Hari ke 6-14
Merangkak Hari ke 7-14
Berjalan dan BAB-pipis dengan sendirinya Hari ke 14-21

   
Tabel 1. Waktu Perkembangan Anakan Anjing dan Kucing
( Sumber: Root Kustritz 2003)

 

Daftar Pustaka

Root Kustritz, M. (2003). Neonatology. Small Animal Theriogenology. St Louis,

Buitterworth-Heineman

 

Papich, Mark G. 2011. Saunders Handbook Of Veterinary Drugs Small and Large

Animal Third Edition. Missiouri; Elsevier Saunders.

 


  • pdhbvet

    pdhbvet