Leptospirosis pada Anjing

Leptospirosis pada Anjing

 

Leptospirosis merupakan penyakit menular dan zoonosis (menular dari hewan ke manusia ataupun sebaliknya) yang menyebabkan kegagalan ginjal akut serta penyakit hati. Penyebab leptospirosis adalah berbagai serovar dari Leptospira interrogans. Leptospirosis dalam bentuk subakut tidak tampak gejala klinis sedangkan dalam bentuk akut akan menyebabkan sepsis, nefritis interstisialis (infeksi di ginjal), anemia hemolitika, hepatitis dan abortus. Anjing yang memiliki aktifitas di luar ruangan dan anjing pemburu lebih beresiko menderita leptospirosis. Faktor lingkungan yang mendukung kehidupan Leptospira sp yaitu lingkungan yang lembab dan hangat, musim penghujan, dataran rendah, daerah tropis dan subtropis, lingkungan yang berair. organisme dapat bertahan 180 hari di dalam air atau tanah yang basah, lingkungan yang padat populasi serta terdapat hewan pengerat atau satwa liar.

 

Penyebab

            Leptospirosis pada anjing dapat disebabkan oleh infeksi dari berbagai serovar Leptospira interrogans antara lain yaitu L. australis, L. autumnalis, L. ballum, L.batislava, L. bataviae, L.canicola, L.grippotyphosa, L. hardjo, L. icterohaemorrhagica, L. pomona, dan L. tarassovi. Sedangkan pada kucing dapat disebabkan oleh serovar L. bratislava, L. canicola, L. grippotyphosa, dan L. pomona. Serovar yang sering dipakai di dalam vaksin Leptospira yaitu serovar L. canicola dan L. icterohemorrhagica. Antibodi yang terbentuk terhadap serovar-serovar diatas merupakan antibodi serovar spesifik  sehingga tidak menimbulkan reaksi silang antar serovar  yang berakibat tidak adanya perlindungan terhadap serovar lainnya yang berada di alam walaupun sudah divaksin.

Penularan

            Perpindahan Leptospira ke hewan atau individu lainnya dapat melalui kontak langsung dan tidak langsung. Penularan dapat melalui kontak langsung terhadap urin, abortusan, cairan sperma penderita. Sedangkan secara tidak langsung dapat melalui paparan terhadap lingkungan yang terkontaminasi seperti tanaman, tanah, makanan, air, selimut yang dalam kondisi yang cocok bagi Leptospira bertahan hidup. Leptospira tersebut dapat berasal dari penderita ataupun hewan reservoir seperti tikus. Pada hewan yang telah beradaptasi (hospes), infeksi hanya akan menyebabkan gejala subklinis dan akan menjadi reservoir yang akan menyebarkan Leptospira secara perlahan-lahan. Sedangkan infeksi pada hewan yang tidak teradaptasi akan mengakibatkan penyakit klinis. Leptospira yang dikeluarkan akan berenang bebas di air dan akan menginfeksi melalui luka di kulit, luka gigitan, dan melalui mukosa mata, mulut, alat kelamin, dan mukosa lainnya.

Patogenesa

            Leptospira yang berhasil menembus kulit dan mukosa akan masuk dengan cepat ke pembuluh darah (4-7 hari) dan menyebar ke seluruh bagian tubuh (2-4 hari) terutama ginjal dan hati. Invasi Leptospira tersebut akan menyebabkan demam,  leukositosis, anemia hemolitika, hemoglobinuria ringan, dan albuminuria. Selain itu, akan terjadi ptechie (bintik bintik merah di kulit) akibat rusaknya sel endotel kapiler pembuluh darah. Hati akan mengalami nekrosis sehingga terjadi jaundice (kekuningan). Leptospira akan berkoloni dan replikasi di dalam epitel tubuli ginjal sehingga menyebabkan nefritis interstisialis. Kematian dapat terjadi akibat nefritis interstisialis, kerusakan buluh darah, dan kegagalan.

Gejala Klinis

                        Gejala klinis akan muncul setelah masa inkubasi yang berlangsung selama 5 – 15 hari (rata – rata 1 minggu). Hewan yang menderita perakut dan akut akan menunjukkan gejala berupa anoreksia (hilangnya nafsu makan), lesu, hiperestesi otot-otot perifer, pernafasan yang dangkal, muntah, demam, mukosa pucat dan detak jantung cepat. Kerusakan sel-sel trombosit akan mengakibatkan koagulasi perivaskuler yang luas (Disseminated Intravasculer Coagulation) sehingga terjadi ptechie dan ecchymoses di kulit, epistaksis (mimisan) dan melena (kotoran kehitaman). Gejala klinis lainnya yg cukup khas adalah jaundice (kuning) pada membrane mukosa.

anjing

Mukosa anjing yang mengalami leptospirosis, terlihat kekuningan akibat tingginya kadar bilirubin dalam darah

Diagnosa

Diagnosa terhadap leptospirosis tidak cukup hanya berdasarkan gejala klinis, hematologi maupun kimiawi darah. Pemeriksaan-pemeriksaan hanya akan memperoleh gambaran adanya gangguan di hati dan ginjal bukan agen penyebab. Gambaran pemeriksaan darah terdapat adanya peningkatan PCV akibat dehidrasi, leukositosis (peningkatan jumlah sel darah putih), trombositopenia (penurunan jumlah trombosit), BUN dan kreatinin yang tinggi (indikasi gangguan ginjal), peningkatan enzim hati (SGOT, SGPT, ALP), proteinuria, dan isothenuria.

Diagnosa terhadap agen penyebab dapat dilakukan melalui pemeriksaan laboratoris yaitu melalui PCR.

Terapi

            Terapi yang dapat dilakukan terhadap penderita leptospira yaitu terapi cairan untuk menangani dehidrasi yang terjadi akibat demam, anoreksia. Jika tidak urinasi atau urin sedikit dapat diterapi menggunakan diuresis yang tidak memberatkan ginjal. Sebelum dilakukan terapi diuresis, sebelumnya harus dilakukan rehidrasi terlebih dahulu. Terapi antibiotika yang tepat yaitu menggunakan amphicillin setiap 8 jam secara intravena. Untuk mengeliminasi leptospira dari jaringan interstisial ginjal menggunakan antibiotik doxycycline selama 3 minggu.

Pencegahan

            Pencegahan melalui vaksinasi merupakan tindakan terbaik yang dapat dilakukan walaupun perlindungan yang berasal dari vaksinasi tersebut dinilai sangat kurang. Hal tersebut dikarenakan vaksin yang sering digunakan hanya menggunakan 2 tipe serovar yaitu serovar L. canicola dan L. icterohemarrhagica. Pabrikan vaksin Fort Dodge telah mengembangkan vaksin dengan empat tipe serovar yaitu L. canicola, L. icterohemarrhagica, L. grippotyphosa, dan L. pomona.

Tindakan pencegahan lainnya yang tidak kalah penting yaitu sanitasi kandang yang baik untuk mencegah kontak dengan urin penderita, pengendalian terhadap hewan pengerat, monitoring dan memindahan anjing carier sampai terapi selesai, mengisolasi hewan penderita selama pengobatan. Selain itu, perlu adanya pembatasan aktifitas ke area yang basah, dataran rendah dengan air yang menggenang serta ke alam liar.

Infeksi pada manusia

Leptospirosis merupakan penyakit menular. Infeksi pada manusia dapat terlihat subklinis, ringan, seperti sakit flu, atau gejala berat dengan gangguan liver dan ginjal. Pencegahan perlu dilakukan dengan cara desinfeksi area, memakai sarung tangan, masker, dan cuci tangan setelah memegang penderita.

 


Heat stroke pada Anjing

Heat stroke pada Anjing
Oleh: drh. Agus Efendi

anjing

Hiperthermia merupakan kejadian peningkatan suhu tubuh anjing diatas nilai normal (37,8 – 39,2 oC). Hiperthermia dapat dibedakan menjadi hiperthermia pirogenik (pireksia atau demam) dan hipertermia non-pirogenik. Heat stroke merupakan bentuk dari hiperthermia non-pirogenik (tanpa adanya gejala peradangan) yang terjadi saat mekanisme tubuh untuk menghilangkan panas tidak mampu mengakomodasi panas yang berlebihan sehingga dapat memicu disfungsi organ multisistemik sehingga heat stroke  merupakan kasus emergensi yang memerlukan terapi secepatnya. Suhu tubuh kritis yang dapat menyebabkan disfungsi organ multisistemik adalah 42oC karena nekrosis seluler, hipoksia, dan denaturasi.

 

Penyebab

Anjing tidak dapat berkeringat (kecuali pada sebagian kecil pada bantalan kaki dan hidung) sehingga anjing tidak toleransi terhadap suhu lingkungan yang tinggi. Anjing tergantung pada mekanisme panting untuk menurunkan suhu tubuh dengan cara pertukaran udara yang bersifat panas dari dalam tubuh dengan udara yang lebih dingin dari lingkungan.  Namun saat suhu udara lingkungan mendekati suhu tubuh maka pendinginan temperatur tubuh melalui panting tidak akan efisien.

Situasi yang umum dapat mengakibatkan heat stroke pada anjing antara lain:

  1. Anjing ditinggal di dalam mobil pada cuaca yang panas
  2. Exercise berat pada cuaca yang panas dan lembab
  3. Sedang menderita penyakit jantung dan paru-paru yang mengganggu efisiensi pernafasan
  4. Sedang dibrangus dalam kondisi sedang dikeringkan menggunakan pengering rambut
  5. Sedang menderita demam yang tinggi atau dalam keadaan seizure
  6. Sedang dikurung pada tempat yang beralaskan beton atau aspal
  7. Sedang dikurung tanpa atap dan air minum yang segar di cuaca yang panas
  8. Pernah menderita heat stroke sebelumnya.

Predisposisi

Anjing yang beresiko besar terserang heat stroke yaitu ; memiliki riwayat heat stroke, intoleran panas akibat rendahnya penyesuaian diri, kegemukan, buruknya kondisi kardiopulmoner, hipertiroidismus, berpenyakit kardiopulmoner, ras brachycephalic, berbulu tebal, dan dehidrasi. Anjing – anjing besar serta berbulu gelap lebih beresiko mengalami heat stroke.

Patofisiologi

Keadaan hiperthermia akan menginduksi vasodilatasi pembuluh darah sehingga menyebabkan darah menggenang di daerah kaki dan volume cairan ekstraseluler akan berkurang akibat evaporasi. Hal tersebut akan mengakibatkan penurunan cardiac output dan tekanan darah terutama di pembuluh darah kulit. Penurunan tekanan darah akan mengakibatan kelemahan, malas, mual, dan hilangnya kesadaran. Suhu tubuh yang tinggi dan berlangsung lama akan mengakibatkan edema cerebral yang akan berujung kematian.

Suhu tubuh yang tinggi dapat mempengaruhi langsung sel-sel tubuh dan pelepasan sitokin (misalnya interleukin, tumor nekrosisfaktor, dan interferon) dari sel-sel endotel, leukosit, dan sel epitel. Kejadian di atas akan menghasilkan respon peradangan secara sistemik yang akan mengakibatkan disfungsi multiorgan, encephalopati, rhabdomyolisis, dan gagal ginjal akut.

Gejala

Anjing yang teserang heat stroke akan memperlihatkan panting yang berat dan kesulitan bernafas, lidah dan membran mukosa akan terlihat merah cerah, saliva kental dan terkadang muntah. Suhu rektal meningkat dari 40ºC dan selanjutnya anjing secara progresif akan lemah dan diare berdarah. Dalam keadaan shock, bibir dan membran mukosa akan menjadi abu-abu, kolaps, seizure, koma dan kematian.

Pemeriksaan klinis terhadap anjing yang terserang heat stroke akan dijumpai; panting, hipersalivasi (berliur), hiperthermia, membran mukosa kemerahan, detak jantung cepat, , shock, kesusahan bernafas, bintik bintik merah di kulit, gemetaran, kejang, koma, keadaan lanjut sampai muntah darah dan diare berdarah hingga kematian.

Diagnosa

Diagnosa penyakit heat stroke berdasarkan peningkatan suhu tubuh diatas normal tanpa adanya gejala peradangan. Panting dan hipersalivasi tidak terdapat pada demam yang sebenarnya. Pemeriksaan darah lengkap mungkin membantu mengetahui perjalanan penyakit. Uji laboratorium lainnya yang penting dilakukan yaitu activated coagulation time (ACT) atau laju endap darah (LED) untuk mendeteksi adanya disseminated intravascular coagulopathy (DIC) sebagai komplikasi dari heat stroke.

Terapi

            Terapi yang dapat diberikan saat terjadi heat stroke yaitu memindahkan anjing dari lingkungan atau sumber panas ke tempat yang lebih dingin atau lebih baik ke ruangan berpendingin (AC). Apabila suhu rektal melebihi 40oC, maka dilakukan pendinginan dengan menyemprotkan air atau merendam anjing di dalam bak mandi yang berisi air dingin (bukan air es) selama 2 menit atau meletakkan anjing yang telah dibasahi ke depan kipas angin sebelum dibawa ke dokter hewan untuk dilakukan tindakan darurat. Pendinginan tersebut tidak boleh menggunakan es atau air yang sangat dingin karena pendinginan yang ekstrim dapat menyebabkan pembuluh darah berkonstriksi sehingga mencegah tubuh untuk mendingin dan dapat meningkatkan peningkatan suhu internal tubuh. Pendinginan tersebut juga harus terjadi secara lamban sehingga terjadi penurunan suhu tubuh yang rendah secara bertahap untuk menghindari terjadinya DIC. Penurunan suhu yang terlalu cepat akan menginduksi terjadinya DIC.

Pencegahan

            Pencegahan terjadinya heat stroke antara lain yaitu:

  1. Anjing yang terjadi gangguan pada pernafasannya harus dijaga agar tetap di dalam ruangan berpendingin atau berkipas angin pada saat cuaca panas dan kelembaban tinggi
  2. Tidak meninggalkan anjing di dalam mobil dengan cendela yang tertutup walaupun mobil sedang diparkir di tempat yang beratap
  3. Tidak melakukan exercise di cuaca yang panas
  4. Selalu menyediakan teduhan dan persediaan air yang banyak ke anjing yang berada di luar ruangan khususnya kennel dengan alas lantai dari beton atau aspal
  5. Menyediakan permukaan yang lebih dingin seperti papan kayu, keset, atau rumput pada anjing yang berada di luar ruangan

Cat Flu

Cat Flu
Oleh: Drh. Tiara Putri Sajuthi

Cat flu atau flu pada kucing adalah penyakit saluran pernafasan yang dapat disebabkan oleh virus dan bakteri. Gejala klinis yang tampak dari penyakit ini adalah pilek, sariawan, rhinosinusitis, konjungtivitis, salivasi, dan kadang disertai dengan adanya ulkus pada rongga mulut. Yang termasuk ke dalam klasifikasi dari cat flu ini adalah feline viral rhinotracheitis (FVR), feline calicivirus (FCV), feline pneumonitis (Chlamidia), reovirus dan micoplasma.

cat_flu

Gambar 1. Kucing yang Menderita Cat Flu (pilek, lesu, sesak nafas dan konjunctivitis)

Sekitar 45 – 55 % penyakit pada saluran pernafasan ini disebabkan oleh FVR. FVR atau herpes virus sangat mudah menular dari satu hewan ke hewan lainnya. Selain FVR, FCV juga merupakan penyakit saluran pernafasan yang cukup sering terjadi pada kucing. Faktor stres merupakan faktor utama kucing dapat terkena kedua infeksi virus tersebut. Pada saat stres, kondisi tubuh akan menurun sehingga mudah sekali untuk terkena infeksi. Masa inkubasi dari kedua virus ini relatif cepat yaitu sekitar 2 – 6 hari, dan penularan dapat terjadi dengan cepat lewat udara dan peralatan.

Virus ini biasanya menyerang organ secara sistemik. Pada saluran pernafasan, maka akan tampak gejala klinis berupa bersin, rhinitis, sinusitis, dan keluarnya cairan dari hidung yang bersifat serous sampai dengan purulent.  Pada bagian mata akan tampak adanya keratitis dan konjungtivitis yang disertai dengan pengeluaran air mata dengan konsistensi yang kental, dan tidak jarang sampai bernanah.

Peluang kesembuhan dari penyakit ini sekitar 50%, apabila penyakit dapat diketahui lebih dini dan ditangani dengan segera, peluang kesembuhan bisa mencapai 80%. Terapi yang terbaik untuk kasus ini adalah dengan memberikan antibiotik, mucolitic agent, vitamin peningkat daya tahan dan dapat juga dibantu dengan memberikan vitamin C melalui jalur intravena. Penguapan (nebulizer) dengan normo saline yang dicampur dengan bronchodilatator (salbutamol) juga memberikan efek positif pada kasus ini.

Pemberian obat antiviral seperti interferon untuk kasus cat flu yang disebabkan oleh virus tidaklah efektif. Hal ini disebabkan karena vitus tersebut sangat mudah bermutasi. Sehingga sampai saat ini pemberian obat-obatan simptomatis dan suportif untuk peningkat antibodi masih merupakan pilihan terbaik untuk menangani kasus ini.

 

Daftar Pustaka

Kahn CM. 2005. Merck Veterinary Manual. Pennsylvania : merck & co.

Tilley LP, Smith FWK.2000. The 5 Minute Veterinary Consult. Maryland: Lippincott Williams and Wilkins.

Nelson RW & Couto CG. 2009. Small Animal Internal Medicine 4th Edition. Missouri : Mosby


  • pdhbvet

    pdhbvet