Studi Kasus: Pyometra pada Anjing

Studi Kasus: Pyometra pada Anjing

Oleh: drh. Tiara Putri Sajuthi

Pyometra, secara harfiah berarti nanah di dalam uterus, adalah penyakit umum yang khas pada anjing betina yang belum di steril. Kejadian pyometra biasanya terdiagnosa mulai dari 4 minggu sampai 4 bulan setelah estrus. Penyakit ini akan menyebabkan perubahan yang tidak signifikan pada stadium awal, oleh karena itu, pada prosesnya penyakit ini lambat terdiagnosa. Anjing dengan pyometra dapat memiliki discharge vagina (open-cervix pyometra) atau tanpa discharge vagina (closed-cervix pyometra) dan tidak jarang juga disertai dengan terbentuknya kista. Closed-cervix pyometra adalah kasus darurat yang membutuhkan penanganan cepat untuk mencegah sepsis dan kemungkinan terjadinya kematian (Smith 2006).

12
(a)                                                                (b)

Sumber: Dokumentasi pribadi

Gambar 1. Pyometra (a) dan Pyometra yang Disertai dengan Terbentuknya Kista (b)

Gejala klinis yang tampak pada anjing yang menderita pyometra adalah penurunan napsu makan, depresi, polidipsi, lemah, dan mengalami distensi abdominal dengan atau tanpa discharge vagina. Discharge vagina, dapat bersifat purulen, sanguinopurulen (mirip dengan sup tomat), mukoid atau hemoragi akut. Pada gambaran hasil darah (laboratorium), biasanya akan tampak peningkatan jumlah sel darah putih dan azotemia prerenal yang muncul bersamaan dengan dehidrasi (hiperproteinemia dan hiperglobulinemia) (Smith 2006).

3
Sumber: Dokumentasi pribadi

Gambar 2. Discharge Darah Bercampur Nanah dari Vagina Anjing Golden Retriever

Patogenesa pyometra pada anjing melibatkan stimulasi estrogen pada uterus yang diikuti dengan interval progesteron dominan yang diperpanjang. Ketika anjing betina semakin tua, stimulasi estrogen semakin sedikit dan terjadi dominasi progesteron. Hasil dari dominasi progesteron ini adalah proliferasi endometrium, peningkatan sekresi lendir uterus, dan penurunan kontraksi myometrium. Karena myometrium mengalami penurunan kontraksi dan sekresi lendir meningkat menyebabkan uterus kesulitan untuk mengeluarkan lendir. Kesulitan pengeluaran lendir oleh uterus menyebabkan bakteri yang terdapat di dalam vagina mudah untuk sampai ke dalam uterus. Bakteri yang masuk ke dalam uterus akan bersatu dengan lendir yang terdapat di uterus. Lendir tersebut merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri, sehingga bakteri dapat berkembang biak dengan cepat. Hal ini terlihat dengan semakin banyaknya akumulasi nanah di dalam uterus (Lopate 2010).

Diagnosa terbaik untuk membuktikan terjadi atau tidaknya pyometra adalah dengan melakukan ultasonografi dan radiografi. Apabila dilakukan ultrasonografi, maka akan terlihat adanya cairan di dalam uterus, disertai dengan terlihatnya dinding uterus yang menebal. Sedangkan penampakan radiografi yang terlihat adalah adanya bentukan tubular yang terisi oleh cairan, dan terletak diantara colon decenden dan vesica urinaria (Lopate 2010).

4
Sumber: Dokumentasi pribadi

Gambar 3. USG : Terlihat Uterus Membesar dan Berisi Cairan Hipoechoic

Pengobatan pyometra pada anjing dapat dilakukan dengan 2 metode, yaitu metode operasi dan metode tanpa operasi (dengan obat-obatan). Metode terbaik adalah dengan dilakukan operasi ovariohysterectomy. Teknik ovariohysterectomy umum dilakukan pada pyometra jenis tertutup maupun terbuka, ovariohysterectomy juga dapat mencegah kejadian pyometra berulang pada anjing (Rootwelt-andersen dan Farstad 2006).

56

Sumber: Dokumentasi pribadi

Gambar 3. Operasi Pyometra dengan Teknik Ovariohysterectomy

Pada beberapa kasus pyometra, dapat terjadi komplikasi akibat terdapat sisa pyometra dan dapat berkembang menjadi Ovarian Remnant Syndrome. Sindroma ini juga dapat bersumber dari kontaminasi saat operasi, dan dapat mengakibatkan akumulasi pus pada serviks. Selain itu komplikasi yang dapat terjadi setelah ovariohysterectomy diantaranya ialah nafsu makan berlebihan dan obesitas (Musal dan Tuna 2005).

Pengobatan pyometra dengan terapi obat-obatan adalah dengan pemberian antibiotik dan terapi hormonal dengan preparat PGF2α. Pemberian PGF2α berfungsi untuk kontraksi myometrium, luteolisis, dan relaksasi serviks. PGF2α juga menyebabkan regresi corpus luteum yang akan mencegah proliferasi bakteri di uterus. Terapi dengan PGF2α diberikan selama 5-10 hari hingga uterus kembali normal (pus telah keluar semua). Namun pemberian terapi dengan hormon PGF2α banyak menimbulkan efek samping, diantaranya gelisah, hipersalivasi, panting, vomiting, sakit pada abdominal, tachycardia, demam, defekasi, dan prolapsus uteri (Blendinger 2010).

 

DAFTAR PUSTAKA

Blendinger, K. 2010. Medical Treatment of the Canine Pyometra. www.blendivet.de.

Lopate, C. 2010. Pyometra in the Bitch. www.reproductiverevolutions.com.

Musal, B. dan B. Tuna. 2005. Surgical Therapy of Complicated Uterine Stump Pyometra in Five Bitches : a Case Report. Vet.Med-Czech. 12 : 558-562

Rootwelt-Andersen, V dan W. Farstad. 2006. Treatment Pyometra in the Bitch : A Survey Among Norwegian Small Animal Practicioners. EJCAP. 16 : 195-198

Smith, FO. 2006. Canine Pyometra. Science Direct. 66 : 610-612.


Studi kasus: Pemeriksaan luka pada kornea mata (Ulceratif Keratitis) dan terapinya dengan penambalan menggunakan V-Cell

Studi kasus: Pemeriksaan luka pada kornea mata (Ulceratif Keratitis) dan terapinya dengan penambalan menggunakan V-Cell

By: drh. Cucu K. Sajuthi & drh. Tiara Putri Sajuthi

 

Ulkus kornea (ulceratif keratitis) adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan terjadinya luka pada kornea. Pada anjing, kejadian ulkus kornea dapat disebabkan oleh trauma, kurangnya produksi air mata / keratoconjunctivitis sicca (KCS), kelainan bulu mata (distichiasis, trichiasis, dan ectopic cilia), kelopak mata melipat kedalam (entropion), dan infeksi sekunder akibat virus. Pada tahap yang lebih lanjut, ulkus kornea dapat menyebabkan komplikasi penyakit mata yang lain seperti anterior synechiae, endopthalmitis, anterior chambre colapse, glaucoma, atropi badan siliari, dan phthisis bulbi (Nasisse 1996).

1

Gambar 1. Ulkus Kornea pada Mata Anjing Chihuahua

 

Kejadian yang paling sering menyebabkan ulkus kornea adalah Keratoconjungtivitis Sicca (KCS). KCS ini ditandai dengan penurunan produksi air mata dan dapat terjadi pada seluruh ras anjing. Produksi air mata yang terlalu sedikit menyebabkan apabila ada benda asing (kotoran atau debu) yang masuk kedalam mata tidak dapat langsung dibersihkan oleh air mata, akibatnya benda asing tersebut akan berdiam lama pada kornea yang mengakibatkan timbulnya luka. Ras anjing yang paling sering mengalami kejadian ini adalah Shihtzu, Pug, English Bulldog, Peking dan Cocker Spaniel (Riis 2002).

Gejala klinis yang tampak pada hewan yang menderita ulkus kornea adalah sering memicingkan mata, produksi air mata berlebihan atau kering, menjauhkan diri dari sinar, sering menabrak benda-benda disekitarnya, dan ukuran antara pupil kiri dan kanan tidak sama besar (Hines 2008). Berdasarkan pengamatan, gambaran klinis yang terlihat pada anjing yang menderita ulkusberbeda untuk setiap tingkat keparahan. Pada kejadian ulkus kornearingan (superficial ulcer) kornea masih terlihat transparan, sehingga untuk mempertegas adanya ulkusdiperlukan test fluorescein. Sedangkan pada kejadian yang sudah parah (deep ulcer) luka tampak dengan jelas, sehingga langsung dapat dilihat tanpa perlu adanya test (Mills 2008).

Luka pada kornea dapat diteksi secara dini menggunakan fluorescein test. Fluorescein ini tersedia dalam bentuk paper strip sehingga aplikasi penggunaannya relatif mudah. Aplikasi dari pemakaian test ini adalah dengan menempelkan paper strip fluorescein test yang telah dibasahi dengan NaCl fisiologis pada dorsal bulbar konjungtiva, kemudian  mata dibilas dengan menggunakan cairan NaCl fisiologis apabila masih terdapat warna hijau yang menempel pada mata, artinya mata tersebut mengalami luka. Mekanisme kerja dari fluorescein ini adalah adanya lipid pada lapis epitel dari kornea. Bila lapis epitel ini mengalami luka maka secara otomatis lipid akan terkikis, akibatnya fluor yang harusnya hilang setelah dibilas dengan NaCl akan tetap berada pada daerah yang mengalami luka (Ward 1999).

 

21 22

Gambar 2. Test Fluorscein

 

 3 32

Gambar 3. Cara Deteksi Ulkus Korna dengan Menggunakan Test Fluorscein

 

 4

 Gambar 4. Hasil Test Fluorsceini positif, yang Menunjukkan adanya Luka pada Kornea.

 

V-Cell merupakan suatu bentukan matriks selular yang akan berubah bentuk menjadi sel yang sama dengan sel sekitarnya. Proses penambalan dengan menggunakan V-cell ini merupakan metode yang paling baik, karena tingkat keberhasilannya cukup tinggi. Dengan menggunakan V-cell ini ulkus kornea yang dalam dan lebar dapat ditambal dengan baik. Walaupun tentu saja tidak 100 persen bisa kembali normal.

 5

Gambar 5. Ulkus Kornea pada Anjing Shihtzu (Tampak ulkus dan edema kornea)

61 62

Gambar 6. Pemasangan V-Cell pada Kornea

7

Gambar 7. Setelah Pemasangan V-Cell Selesai, Mata Ditutup dengan Metode TEF (Third Eyelid Flap)

8

Gambar 8. Satu Bulan Setelah Operasi (Ulkus dan Edema sudah Tidak Tampak)

Daftar Pustaka

Hines R. 2008. Corneal ulcer in dogs and cats. [terhubung berkala]. http://www.2ndchance.info/cornealulcer.htm.

Mills JT. 2008. Corneal ulceration and ulcerative keratitis [terhubung berkala]. http://emedicine.medscape.com/article/798100-overview

Nasisse MP. 1996. Canine ulcerative keratitis. Di dalam Glaze MB, editor. Ophthalmology in Small Animal Practice. New Jersey: Veterinary  Learning System. hlm 45–56.

Riis RC. 2002. Small Animal Ophthalmology Secrets. Philadelphia: Hanley & Belfus, inc.

Ward DA. 1999. Clinical ophthalmic pharmacology and therapeutics. Di dalam Gelatt KN, editor. Veterinary Ophthalmology. Ed ke-3. Pennsylvania: Lippincott Williams & Wilkins. hlm 336-354.

 


Manajemen Pemeliharaan Guinea Pigs

MANAJEMEN PEMELIHARAAN GUINEA PIGS

Penulis : drh S. R. Rotoro, MM

guinea-pig

FISIOLOGIS GUINEA PIGS

Guine pigs terdiri dari berbagai macam breed/species :

  • English : short, straight, fine hair
  • Abyssinian : rough, wiry hair
  • Peruvian : long, straight, silky hair
  • Campuran/crosses of all breeds : banyak warna dan bentuk
  • Jinak dan baik, jarang menggigit. Jika takut akan berlari cepat.

 

DIET GUINEA PIGS

  • Pelet GP/feed commercial dengan minimal 20% protein dan 16 % fiber.
  • Perlu diberikan suplemen vitamin C : 50 mg/cup drinking water/hari.
  • “Treats” tidak lebih dari 1-2 sendok teh per hari : timothy hay, alfafa, sayuran hijau, apel, wortel.
  • GP sangat sensitif pencernaannya, pergantian makanan yang tiba-tiba (ataupun ganti merek) bisa sebabkan gangguan cerna yang serius dan tidak mau makan dalam jangka waktu tertentu/anorexia.

 

PEMELIHARAAN

  • Kandang harus cukup luas untuk : tidur, olah raga/exercise, dan toilet (feces dan kencing).
  • Kandang stainles dengan jari-jari yang kuat dan alas yang solid dari stainless/ aluminium yang mudah dibersihkan.
  • Alas kandang/tempat tidur : serutan kayu yang keras, koran, tissue, pelet. Jangan gunakan plastik, karet karena bisa termakan dan sebabkan penyumbatan saluran cerna.
  • Bersihkan rutin setiap hari dan desinfeksi.
  • Jangan digabung dengan kelinci, kucing dan anjing karena dapat terkena Bordetella.
  • Gunting kuku secara rutin, sisir bulu yang panjang secara rutin.
  • Gigi depan jika memanjang perlu dipotong.


PENYAKIT GP

  • Diare
  • Penyakit kulit
  • Malocclussion : gigi memanjang
  • Pneumonia/Bordetella bacteria
  • Torticolis /kepala miring, gejala syaraf
  • Sariawan /scorbutus

  • pdhbvet

    pdhbvet