Cara Terbaik untuk Memberikan Obat Tetes atau Salep Mata pada Anjing dan Kucing

By: drh. Cucu K. Sajuthi

Apakah Anjing dan Kucing dapat Melihat Warna?
Bagaimana Cara Terbaik untuk Memberikan Obat Tetes atau Salep Mata pada Anjing dan Kucing?

Anjing dan kucing termasuk dichromatoic species artinya mereka mampu menyerap 2 warna gelombang, yaitu biru dan hijau. Kucing ( 454 -561 nm) dan Anjing ( 429- 555 nm) Pada saat hewan kesayangan mengalami sakit mata, ada beberapa keluhan dari para pemilik hewan pada saat mengobatinya, diantaranya adalah:

  1. Tidak tahu cara /tehnik mengobatinya,
  2. Kendala menghadapi pet nya sulit dikendalikan atau tidak koperative.
  3. Kendala petnya yang menolak dipegang karena matanya sangat sakit.

Sediakan obat mata pada hewan sama seperti pada manusia, yaitu dalam bentuk tetes dan salep. Umumnya aplikasi sediaan dalam bentuk tetes lebih mudah dibandingkan dengan sediaan salep, namun pemberian dalam bentuk tetes harus lebih sering (3-5x) sehari, sedangkan salep (2-3x) sehari.

Hal ini dikarenakan sediaan dalam bentuk tetes mudah di flush out oleh air mata, sehingga efektifitas obat menjadi menurun. Sedangkan sediaan salep akan menetap lebih lama pada bola mata karena komponen dan ikatan kimia pada salep lebih sulit untuk di flush out. Hanya saja, umumnya sediaan dalam bentuk salep lebih mahal dibandingkan tetes.

Vision field atau luas lapang penglihatan mata pada anjing dan kucing dibanding dengan manusia lebih luas, sehingga jika ingin meneteskan obat mata tanpa diketahui oleh hewan kesayangan sangat sulit. Vision field anjing adalah 240- 300 º, kucing 180- 290 º, dan manusia 180 º. Cara termudah diusahakan meneteskan dari sisi blind area, untuk anjing sekitar 60 º, kucing 180 º , yang artinya meneteskan dari arah belakang kepalanya.

Gambar cara meneteskan mata

 


Mengenal Infeksi Parvovirus Pada Anjing (muntaber)

Oleh : Drh. Agus Efendy

Mengenal Infeksi Parvovirus Pada Anjing (muntaber)

Parvovirus merupakan salah satu virus yang menyerang saluran pencernaan. Virus lainnya yang dapat menyerang pencernaan yaitu coronavirus, distemper virus, dan rotavirus. Penyakit ini sangat menular pada anjing terutama pada anak anjing dan anjing yang belum divaksinasi. Adapun ciri khas yang paling menonjol pada anjing yang terserang virus parvo yaitu muntah dan diare berdarah. Beberapa ras anjing seperti Rottweilers, Pit Bull, Doberman Pinschers, Labrador Retriever and German Shepherd lebih rentan terhadap penyakit ini.
Penyebab

Penyebab penyakit ini yaitu virus parvovirus (Canine Parvovirus/CPV). Virus ini dapat bertahan lama di lingkungan, antara 1 bulan hingga 7 bulan. Virus ini menyerang sel-sel mukosa usus terutama villi-villi usus sehingga villi-villi usus mengalami kerusakan. Villi usus banyak mengandung pembuluh darah sehingga kerusakan villi usus akan mengakibatkan terjadinya diare berdarah yang cukup hebat. Selain usus, virus ini dapat menyerang sumsum tulang dimana sumsum tulang tersebut berperan dalam pembentukan darah dan sel-sel kekebalan tubuh. Infeksi di sumsum tulang akan mengakibatkan rendahnya kekebalan tubuh anjing tersebut sehingga rentan terhadap infeksi sekunder oleh bakteri atau virus lainnya.
Penularan

Penularan virus ini melalui kontak dengan kotoran (feses) yang mengandung virus parvo. Selain itu, penularan juga dapat melalu benda-benda (peralatan, tangan, baju, tempat makan dan minum, mainan atau tempat tidur) yang terkontaminasi dengan diare dari anjing yang menderita parvo. Virus juga dapat tertinggal di bulu anjing sehingga dapat berperan sebagai sumber penularan. Penyebaran virus melalui feses terjadi antara 3-4 hari setelah infeksi dan akan terus berlangsung selama 14 hari setelah infeksi. Sehingga anak anjing yang telah sembuh dari parvo harus dipisahkan dan diisolasi selama kurang lebih 1-2 minggu dan dimandikan terlebih dahulu sebelum digabung dengan anjing lainnya.

 

Gejala

Masa inkubasi (masa dari virus masuk hingga mulai terlihat sakit) virus parvo antara 4-7 hari. Mengingat masa inkubasi tersebut dan sulitnya deteksi virus saat masa inkubasi sehingga anak anjing yang terlihat sehat dapat menjadi sakit dalam beberapa hari. Gejala yang dialami anjing yang menderita parvo antara lain

  1. Jantung : kerusakan otot jantung, jarang namun dapat terjadi pada anak anjing yang tertular saat di dalam kandungan atau sesudah lahir (kurang dari 8 minggu) dengan gejala kematian yang mendadak.
  2. Gangguan pencernaan : yang paling umum terjadi, pucat, tidak mau makan, muntah, diare berdarah dan bau, dehidrasi, lemas, perut tegang dan sakit, bintik-bintik merah dikulit, dan beberapa terdapat infeksi sekuder seperti pilek. Kematian dapat terjadi hampir 50% kasus.

Gb 1. Salah satu tanda khas infeksi parvo dengan terlihat adanya diare berdarah yang berat.

 

Diagnosa

Diagnosa adanya infeksi virus parvo paling sederhana menggunakan test kit virus parvo. Hasil test positif bisa terlihat dengan adanya 2 garis yang muncul di alat test.

 

Gb. 2 Salah satu test parvo yang menunjukkan positif

 

Penanganan

Penanganan secara spesifik untuk menghilangkan virusnya seperti penggunakan obat antiviral belum tersedia. Penanganan suportif dilakukan untuk membantu menjaga kondisi umum anjing. Penangan meliputi pemberian terapi cairan (infus) baik memalui subcutan (dibawah kulit) ataupun melalui intravena (melalui pembuluh darah) untuk menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit yang hilang karena muntah dan diare. Penanganan lainnya melalui pemberian antimuntah, antibiotik dan pemberian injeksi suplemen protein dan nutrisi. Perawatan rata-rata membutuhkan waktu 1-2 minggu.

 

Pencegahan

Pencegahan merupakan tindakan terpenting dalam penanganan kasus ini. Pencegahan dilakukan melalui tindakan vaksinasi yang teratur. Peralatan dan lingkungan yang tercemar virus parvo didesinfeksi menggunakan larutan pemutih pakaian yang di encerkan dengan air dengan perbandingan 1 : 30 karena virus ini cukup yahan di lingkungan dan cairan desinfektan lainnya. Anjing yang telah sembuh dari parvo harus tetap diisolasikan sekitar 1-2 minggu dan dimandikan dahulu sebelum digabung dengan anjing lainnya untuk mencegah penularan virus.


Miracle Needles Of Acupunture

Oleh : Drh. Tatang Cahyono.


  • pdhbvet

    pdhbvet