Perawatan Setelah Beranak Untuk Anjing dan Kucing

Perawatan Setelah Beranak (Post Partus) Untuk Anjing dan Kucing

 Oleh: drh. Nova Anggraini

Lingkungan anak anjing dan kucing yang baru lahir harus dalam suasana yang bersih dan hangat. Anakan ditempatkan di tempat yang bersih, aman dan tenang dengan alas yang baik (handuk atau kain bersih, guntingan kertas koran, dsb) dalam suatu keranjang. Suasana tempat anakan harus yang hangat terutama pada malam hari. Lampu bohlam 20 watt bisa diletakkan dengan jarak 40 cm dari anakan serta dalam suasana ruangan non AC.  Karena anakan yang kedinginan akan menyebabkan perut kembung dan sering sekali berakhir dengan kematian.

kucing1

Gambar 1. Alas dan Suasana Tempat Anakan
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Pada indukan yang bersifat manja maka sebaiknya anakan dipisah dahulu dari induknya sampai induknya sayang. Induk yang sayang dengan anaknya terlihat dari perilaku mau menjilati anaknya daan menangisa jika dipisahkan dari anaknya. Hal-hal yang bisa terjadi apabila induk belum sayang anaknya antara lain anakan bisa termakan, tergigit ataupun terinjak oleh induknya sendiri. Induk-induk tersebut diajarkan menyayangi anak-anaknya dengan cara mendekati anakan ke induk untuk mecium-cium bau anaknya. Pada indukan anjing maupun kucing yang beranak melalui bedah Caesar biasanya belum atau tidak merasa sayang.

Induk anjing dan kucing yang beranak banyak harus disediakan susu pengganti untuk anak-anaknya. Pengaturan pemberian susu diatur bergantian antara  susu formula maupun ASI. Baiknya anakan diberi susu induk selama 24 jam pertama setelah lahir karena mengandung antibodi yang banyak yang sering disebut susu kolostrum. Susu kolostrum penting untuk imunitas anakan.  Untuk pemberian susu pengganti diberikan selang waktu antara 3-4 jam. Sebelum anakan menyusu ke induk, baiknya putting susu dilap dengan waslap hangat untuk membersihkan kotoran-kotoran yang menempel pada putting susu. Apabila ASI terlihat kuning-lengket atau kehijauan atau bernanah jangan diberikan kepada anak anjing karna kelenjar susu sedang meradang atau yang sering disebut dengan mastitis. ASI tersebut mengandung banyak bakteri yang bersifat jahat sehingga dapat menyebabkan anak anjing maupun kucing mengalami diare.

Makanan padat (bubur susu) diberikan setelah anak berumur 1 bulan. Selain itu, induk harus diberi makanan tambahan terutama jika anaknya banyak. Kekurangan energy dan makanan dapat menyebabkan induk kekurangan kalsium atau yang sering disebut hipokalsemia atau milk fever. Hipokalsemia akan menunjukkan gejala induk akan kejang-kejang, suhu badan tinggi dan kekakuan pada otot-otot tubuhnya. Baiknya induk anjing atau kucing tersebut langsung dibawa ke dokter hewan untuk diberikan penanganan secepatnya. Kejadian tersebut dapat dihindari dengan pemberian supplement kalsium tambahan ataupun susu.

Tali pusar  kering dan lepas Hari ke 2-3
Mata terbuka Hari ke 5-14
Telinga terbuka Hari ke 6-14
Merangkak Hari ke 7-14
Berjalan dan BAB-pipis dengan sendirinya Hari ke 14-21

   
Tabel 1. Waktu Perkembangan Anakan Anjing dan Kucing
( Sumber: Root Kustritz 2003)

 

Daftar Pustaka

Root Kustritz, M. (2003). Neonatology. Small Animal Theriogenology. St Louis,

Buitterworth-Heineman

 

Papich, Mark G. 2011. Saunders Handbook Of Veterinary Drugs Small and Large

Animal Third Edition. Missiouri; Elsevier Saunders.

 


Studi Kasus: Pyometra pada Anjing

Studi Kasus: Pyometra pada Anjing

Oleh: drh. Tiara Putri Sajuthi

Pyometra, secara harfiah berarti nanah di dalam uterus, adalah penyakit umum yang khas pada anjing betina yang belum di steril. Kejadian pyometra biasanya terdiagnosa mulai dari 4 minggu sampai 4 bulan setelah estrus. Penyakit ini akan menyebabkan perubahan yang tidak signifikan pada stadium awal, oleh karena itu, pada prosesnya penyakit ini lambat terdiagnosa. Anjing dengan pyometra dapat memiliki discharge vagina (open-cervix pyometra) atau tanpa discharge vagina (closed-cervix pyometra) dan tidak jarang juga disertai dengan terbentuknya kista. Closed-cervix pyometra adalah kasus darurat yang membutuhkan penanganan cepat untuk mencegah sepsis dan kemungkinan terjadinya kematian (Smith 2006).

12
(a)                                                                (b)

Sumber: Dokumentasi pribadi

Gambar 1. Pyometra (a) dan Pyometra yang Disertai dengan Terbentuknya Kista (b)

Gejala klinis yang tampak pada anjing yang menderita pyometra adalah penurunan napsu makan, depresi, polidipsi, lemah, dan mengalami distensi abdominal dengan atau tanpa discharge vagina. Discharge vagina, dapat bersifat purulen, sanguinopurulen (mirip dengan sup tomat), mukoid atau hemoragi akut. Pada gambaran hasil darah (laboratorium), biasanya akan tampak peningkatan jumlah sel darah putih dan azotemia prerenal yang muncul bersamaan dengan dehidrasi (hiperproteinemia dan hiperglobulinemia) (Smith 2006).

3
Sumber: Dokumentasi pribadi

Gambar 2. Discharge Darah Bercampur Nanah dari Vagina Anjing Golden Retriever

Patogenesa pyometra pada anjing melibatkan stimulasi estrogen pada uterus yang diikuti dengan interval progesteron dominan yang diperpanjang. Ketika anjing betina semakin tua, stimulasi estrogen semakin sedikit dan terjadi dominasi progesteron. Hasil dari dominasi progesteron ini adalah proliferasi endometrium, peningkatan sekresi lendir uterus, dan penurunan kontraksi myometrium. Karena myometrium mengalami penurunan kontraksi dan sekresi lendir meningkat menyebabkan uterus kesulitan untuk mengeluarkan lendir. Kesulitan pengeluaran lendir oleh uterus menyebabkan bakteri yang terdapat di dalam vagina mudah untuk sampai ke dalam uterus. Bakteri yang masuk ke dalam uterus akan bersatu dengan lendir yang terdapat di uterus. Lendir tersebut merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri, sehingga bakteri dapat berkembang biak dengan cepat. Hal ini terlihat dengan semakin banyaknya akumulasi nanah di dalam uterus (Lopate 2010).

Diagnosa terbaik untuk membuktikan terjadi atau tidaknya pyometra adalah dengan melakukan ultasonografi dan radiografi. Apabila dilakukan ultrasonografi, maka akan terlihat adanya cairan di dalam uterus, disertai dengan terlihatnya dinding uterus yang menebal. Sedangkan penampakan radiografi yang terlihat adalah adanya bentukan tubular yang terisi oleh cairan, dan terletak diantara colon decenden dan vesica urinaria (Lopate 2010).

4
Sumber: Dokumentasi pribadi

Gambar 3. USG : Terlihat Uterus Membesar dan Berisi Cairan Hipoechoic

Pengobatan pyometra pada anjing dapat dilakukan dengan 2 metode, yaitu metode operasi dan metode tanpa operasi (dengan obat-obatan). Metode terbaik adalah dengan dilakukan operasi ovariohysterectomy. Teknik ovariohysterectomy umum dilakukan pada pyometra jenis tertutup maupun terbuka, ovariohysterectomy juga dapat mencegah kejadian pyometra berulang pada anjing (Rootwelt-andersen dan Farstad 2006).

56

Sumber: Dokumentasi pribadi

Gambar 3. Operasi Pyometra dengan Teknik Ovariohysterectomy

Pada beberapa kasus pyometra, dapat terjadi komplikasi akibat terdapat sisa pyometra dan dapat berkembang menjadi Ovarian Remnant Syndrome. Sindroma ini juga dapat bersumber dari kontaminasi saat operasi, dan dapat mengakibatkan akumulasi pus pada serviks. Selain itu komplikasi yang dapat terjadi setelah ovariohysterectomy diantaranya ialah nafsu makan berlebihan dan obesitas (Musal dan Tuna 2005).

Pengobatan pyometra dengan terapi obat-obatan adalah dengan pemberian antibiotik dan terapi hormonal dengan preparat PGF2α. Pemberian PGF2α berfungsi untuk kontraksi myometrium, luteolisis, dan relaksasi serviks. PGF2α juga menyebabkan regresi corpus luteum yang akan mencegah proliferasi bakteri di uterus. Terapi dengan PGF2α diberikan selama 5-10 hari hingga uterus kembali normal (pus telah keluar semua). Namun pemberian terapi dengan hormon PGF2α banyak menimbulkan efek samping, diantaranya gelisah, hipersalivasi, panting, vomiting, sakit pada abdominal, tachycardia, demam, defekasi, dan prolapsus uteri (Blendinger 2010).

 

DAFTAR PUSTAKA

Blendinger, K. 2010. Medical Treatment of the Canine Pyometra. www.blendivet.de.

Lopate, C. 2010. Pyometra in the Bitch. www.reproductiverevolutions.com.

Musal, B. dan B. Tuna. 2005. Surgical Therapy of Complicated Uterine Stump Pyometra in Five Bitches : a Case Report. Vet.Med-Czech. 12 : 558-562

Rootwelt-Andersen, V dan W. Farstad. 2006. Treatment Pyometra in the Bitch : A Survey Among Norwegian Small Animal Practicioners. EJCAP. 16 : 195-198

Smith, FO. 2006. Canine Pyometra. Science Direct. 66 : 610-612.


Manajemen Pemeliharaan Guinea Pigs

MANAJEMEN PEMELIHARAAN GUINEA PIGS

Penulis : drh S. R. Rotoro, MM

guinea-pig

FISIOLOGIS GUINEA PIGS

Guine pigs terdiri dari berbagai macam breed/species :

  • English : short, straight, fine hair
  • Abyssinian : rough, wiry hair
  • Peruvian : long, straight, silky hair
  • Campuran/crosses of all breeds : banyak warna dan bentuk
  • Jinak dan baik, jarang menggigit. Jika takut akan berlari cepat.

 

DIET GUINEA PIGS

  • Pelet GP/feed commercial dengan minimal 20% protein dan 16 % fiber.
  • Perlu diberikan suplemen vitamin C : 50 mg/cup drinking water/hari.
  • “Treats” tidak lebih dari 1-2 sendok teh per hari : timothy hay, alfafa, sayuran hijau, apel, wortel.
  • GP sangat sensitif pencernaannya, pergantian makanan yang tiba-tiba (ataupun ganti merek) bisa sebabkan gangguan cerna yang serius dan tidak mau makan dalam jangka waktu tertentu/anorexia.

 

PEMELIHARAAN

  • Kandang harus cukup luas untuk : tidur, olah raga/exercise, dan toilet (feces dan kencing).
  • Kandang stainles dengan jari-jari yang kuat dan alas yang solid dari stainless/ aluminium yang mudah dibersihkan.
  • Alas kandang/tempat tidur : serutan kayu yang keras, koran, tissue, pelet. Jangan gunakan plastik, karet karena bisa termakan dan sebabkan penyumbatan saluran cerna.
  • Bersihkan rutin setiap hari dan desinfeksi.
  • Jangan digabung dengan kelinci, kucing dan anjing karena dapat terkena Bordetella.
  • Gunting kuku secara rutin, sisir bulu yang panjang secara rutin.
  • Gigi depan jika memanjang perlu dipotong.


PENYAKIT GP

  • Diare
  • Penyakit kulit
  • Malocclussion : gigi memanjang
  • Pneumonia/Bordetella bacteria
  • Torticolis /kepala miring, gejala syaraf
  • Sariawan /scorbutus

  • pdhbvet

    pdhbvet