Amputasi pergelangan kaki depan Bearded dragon (Pogona vitticeps)

PDHB24 Alam Sutera, Serpong. 24 April 2013

Seekor Bearded dragon (Pogona vitticeps) dibawa pemilik untuk konsultasi dengan keluhan kerusakan pada telapak kaki depan kanan.  Nafsu makan dan tingkah laku pasien normal.

Pemeriksaan fisik pada telapak kaki kanan depan pasien, tampak warna kulit berubah kehitaman, jari pertama dan kedua hilang dan jari ke tiga mengalami nekrosis (kematian jaringan).  Tindakan amputasi disarankan untuk pasien ini.

Pasien dipersiapkan untuk operasi amputasi.  Anestesi regional di sekitar daerah amputasi diberikan dengan suntikan Lignociane di beberapa titik.  Daerah insisi disterilkan  dengan Povidone Iodine dan Alkohol 70%.  Pangkal kaki depan diikat sementara untuk membendung aliran darah yang berlebihan di daerah pemotongan.

Pemotongan dilakukan di pergelangan lengan dengan scalpel #10 dan pembuluh darah yang terbuka di-ligasi dengan benang absorbable ukuran 3.0.

Jahitan simple interrupted dengan benang non-absorbable ukuran 3.0 dilakukan untuk menutup daerah amputasi.  Luka dibersihkan dengan Povidone Iodine sebelum diberi salep kombinasi (Peru balsam, omega 3, omega 6, dan antibiotika) dan ditutup dengan kain kasa.

Enrofloxacin per oral kombinasi dengan multivitamin diresepkan untuk satu minggu untuk mengantisipasi infeksi sekunder.

Pemilik disarankan untuk datang kembali untuk re-check seminggu setelah operasi.  Pembukaan jahitan kulit direncanakan dilakukan 2 minggu setelah operasi, tergantung dari kesembuhan luka.

Bearded dragon (Pogona vitticeps) berasal dari daerah gurun dan hutan di bagian tengah benua Australia.  Reptilia ini merupakan salah satu jenis binatang eksotik yang kerap dipelihara oleh para hobiis reptil.  Diet yang dibutuhkan Bearded dragon berupa sayur-sayuran (terutama sayuran hijau), buah-buahan (non jeruk), dan serangga.  Bearded dragon muda membutuhkan pakan serangga lebih banyak dibandingkan Bearded dragon dewasa.

Pemelihara Bearded dragon agar memperhatikan jenis alas kandang (mis: hindari alas kandang dari ‘kawat ayam’) untuk menghindari kejadian serupa dengan pasien ini.

PDHB24 (Sunter, Green Garden, dan Alam Sutera) menyediakan layanan konsultasi dan operasi pada pasien hewan eksotik (mis: Bearded dragon, kura-kura, ular, kelinci, guinea pig, hamster, dll).  Hubungi salah satu dari klinik kami untuk keterangan lebih lanjut mengenai jadwal praktek dokter hewan yang menangani pasien-pasien hewan peliharaan eksotik.

 

Bearded dragon


Cat Flu

Cat Flu
Oleh: Drh. Tiara Putri Sajuthi

Cat flu atau flu pada kucing adalah penyakit saluran pernafasan yang dapat disebabkan oleh virus dan bakteri. Gejala klinis yang tampak dari penyakit ini adalah pilek, sariawan, rhinosinusitis, konjungtivitis, salivasi, dan kadang disertai dengan adanya ulkus pada rongga mulut. Yang termasuk ke dalam klasifikasi dari cat flu ini adalah feline viral rhinotracheitis (FVR), feline calicivirus (FCV), feline pneumonitis (Chlamidia), reovirus dan micoplasma.

cat_flu

Gambar 1. Kucing yang Menderita Cat Flu (pilek, lesu, sesak nafas dan konjunctivitis)

Sekitar 45 – 55 % penyakit pada saluran pernafasan ini disebabkan oleh FVR. FVR atau herpes virus sangat mudah menular dari satu hewan ke hewan lainnya. Selain FVR, FCV juga merupakan penyakit saluran pernafasan yang cukup sering terjadi pada kucing. Faktor stres merupakan faktor utama kucing dapat terkena kedua infeksi virus tersebut. Pada saat stres, kondisi tubuh akan menurun sehingga mudah sekali untuk terkena infeksi. Masa inkubasi dari kedua virus ini relatif cepat yaitu sekitar 2 – 6 hari, dan penularan dapat terjadi dengan cepat lewat udara dan peralatan.

Virus ini biasanya menyerang organ secara sistemik. Pada saluran pernafasan, maka akan tampak gejala klinis berupa bersin, rhinitis, sinusitis, dan keluarnya cairan dari hidung yang bersifat serous sampai dengan purulent.  Pada bagian mata akan tampak adanya keratitis dan konjungtivitis yang disertai dengan pengeluaran air mata dengan konsistensi yang kental, dan tidak jarang sampai bernanah.

Peluang kesembuhan dari penyakit ini sekitar 50%, apabila penyakit dapat diketahui lebih dini dan ditangani dengan segera, peluang kesembuhan bisa mencapai 80%. Terapi yang terbaik untuk kasus ini adalah dengan memberikan antibiotik, mucolitic agent, vitamin peningkat daya tahan dan dapat juga dibantu dengan memberikan vitamin C melalui jalur intravena. Penguapan (nebulizer) dengan normo saline yang dicampur dengan bronchodilatator (salbutamol) juga memberikan efek positif pada kasus ini.

Pemberian obat antiviral seperti interferon untuk kasus cat flu yang disebabkan oleh virus tidaklah efektif. Hal ini disebabkan karena vitus tersebut sangat mudah bermutasi. Sehingga sampai saat ini pemberian obat-obatan simptomatis dan suportif untuk peningkat antibodi masih merupakan pilihan terbaik untuk menangani kasus ini.

 

Daftar Pustaka

Kahn CM. 2005. Merck Veterinary Manual. Pennsylvania : merck & co.

Tilley LP, Smith FWK.2000. The 5 Minute Veterinary Consult. Maryland: Lippincott Williams and Wilkins.

Nelson RW & Couto CG. 2009. Small Animal Internal Medicine 4th Edition. Missouri : Mosby


Puca, kucing kecil yang bertahan hidup dari virulent systemic feline calicivirus

Puca, kucing kecil yang bertahan hidup dari virulent systemic feline calicivirus

Puca baru berumur 4 bulan saat dibawa datang ke klinik, dengan kondisi lemah, demam, jaundice (kuning), mata berair, tidak mau makan. Saat itu Puca harus menjalani serangkaian tindakan seperti pemeriksaan lab, infus, dan injeksi obat-obatan. Hasil lab menunjukkan hepatic injury dengan kenaikan enzim hati AST (144 U/L, normal 9.2-39.5 U/L) dan ALT (298 U/L, normal 8.3-52.5), trombositopenia (trombosit : 48.000/µL, normal 300.000-800.000/µL), dan hiperbilirubinemia (bilirubin total : 1.313 mg/dL, normal 0.15-0.20 mg/dL).

 Kondisi Puca juga semakin hari semakin menurun, tidak ada reflek menelan, suhu di bawah normal, nafas sangat sesak, lemah sekali. Kami menyampaikan kepada pemilik bahwa kondisi Puca kritis dan harapan untuk bertahan sangat kecil. Pemilik juga sudah pasrah dan mempercayakan Puca kepada kami untuk dirawat sampai menghembuskan nafas yang terakhir.  Meskipun kondisinya sangat berat, Puca tidak menyerah, maka kami pun tidak menyerah.

Beberapa hari setelah dirawat, kami menyadari perubahan pada kulit Puca, pada kaki belakang terdapat luka-luka terutama daerah telapak kaki; kaki depan mengalami edema dan alopesia; daerah perineal dan abdomen mulai memar, lama-lama kulit yang memar tersebut mengalami nekrosa, jaringannya mati dan mengelupas dengan sendirinya, disertai dengan perkejuan dan eksudasi nanah yang berbau busuk. Sisa kulitnya yang masih ada tidak bisa dipertahankan lagi karena sudah mati, sehingga kami buang dan bersihkan. Luka terbuka melebar dari bagian abdomen ke perineal sampai berongga ke daerah pangkal ekor.

puca1

Gambar 1 Luka awal Puca di daerah perineal, kulit nekrosa, eksudasi, dan perkejuan.

Berdasarkan gejala klinis, Puca didiagnosa terinfeksi oleh virulent systemic feline calicivirus, Infeksi feline calicivirus (FCV) merupakan penyebab umum penyakit pernafasan dan mulut pada kucing. Infeksi FCV jarang bersifat fatal, namun ada strain lain dari FCV yaitu virulent systemic feline calicivirus (VS-FCV) yang menyebabkan alopesia, luka pada kulit, edema subkutis, dan tingkat kematian yang tinggi pada kucing yang terinfeksi. Luka umumnya bervariasi mulai dari daun telinga, telapak kaki, hidung, dan kulit. Lesio lainnya meliputi pneumonia bronchointerstitial, serta nekrosis pankreas, hati, dan limpa (Pesavento et al. 2004). Gejala klinis VS-FCV pada tahap awal hampir serupa dengan FCV, meliputi luka pada mulut, demam, dan kepincangan. Meskipun luka pada mulut sering disebutkan merupakan karakteristik dari FCV namun tidak selalu muncul pada setiap kasus. Seiring perkembangan penyakit, gejala klinis menjadi semakin parah, meliputi icterus dan vasculitis. Vasculitis akan menyebabkan edema dan/atau alopesia yang parah, serta luka dan eksudasi pada kulit (KSMP 2010).

Puca kami berikan obat-obatan berupa antibiotik, immune stimulant, appetite stimulant, multivitamin, suplemen untuk liver, dan diet khusus science diet a/d. Luka di daerah perineal kami balut dan balutan diganti setiap hari. Luka dibersihkan dengan chlorhexidine, setelah itu diberikan antibiotik topikal. Kami mengamati semakin hari semangat hidup Puca semakin besar, tampak perubahan dari matanya yang sayu mulai bercahaya. Kondisi fisik secara umum mulai membaik, mulai mau makan sendiri sedikit-sedikit, demikian pula lukanya mulai berangsur-angsur membaik.

puca2

Gambar 2 Luka Puca hari ke-12 masih terbuka lebar, namun tidak eksudasi dan sudah granulasi.

puca3

Gambar 3  Luka Puca hari ke-14, mulai tampak mengecil.

puca5

Gambar 4 Luka Puca hari ke-23, luka semakin mengecil.

Pada minggu ketiga di tempat kami, Puca baru menunjukkan gejala pilek (discharge hidung, slaim, dan bersin-bersin) dan sempat menunjukkan penurunan kondisi tapi segera membaik. Akhirnya pada minggu keempat, Puca dijemput pulang dengan status masih dalam masa pemulihan. Pemilik sangat senang Puca dapat kembali berkumpul dengan seluruh anggota keluarga. Kami pun merasakan hal yang sama, karena Puca, yang telah dinyatakan kritis dengan peluang hidup di bawah 10% berhasil berjuang dan bertahan hidup.

                Puca kembali satu bulan kemudian dengan kondisi masih pilek, saat itu Puca diresepkan obat oral dan dua minggu kemudian datang kembali untuk divaksin. Satu bulan setelah vaksin, Puca datang kembali ke klinik untuk kontrol dan dinyatakan sudah sehat. Syukurlah Puca-kucing yang kuat J Semoga Puca panjang umur dan selalu sehat.

DAFTAR PUSTAKA

Pesavento PA, Maclachlan NJ, Dillard-Telm L, Grant CK, Hurley KF. 2004. Pathologic, immunohistochemical, and electron microscopic findings in naturally occurring virulent systemic feline calicivirus infections in cats. Vet Pathol 41 (3) : 257-263.

[KSMP] Koret Shelter Medicine Program. 2010. Feline calicivirus & virulent systemic feline calicivirus (VS-FCV). [terhubung berkala]. http://www.sheltermedicine.com/node/38 (20 Februari 2013).

 

Terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Lilia, “Ibu” Puca yang mengizinkan kami untuk berbagi cerita Puca. :)

puca6

 


  • pdhbvet

    pdhbvet